Minggu, 13 Desember 2009

DESIRE

Desire I

Ayo, kita cari kerja sambilan!


Sekarang baru masuk musim semi, tapi Atsushi sudah memikirkan liburan musim panasnya yang akan datang. Ia ingin menghabiskan liburannya bersama Tomoe, kekasihnya. Ia mengajak Tomoe pergi ke pantai. Rencananya, mereka juga akan menyewa tempat menginap. Jadi, biaya yang diperlukan tidak sedikit.

Hari ini mereka berdua sedang berjalan- jalan sekaligus mencari pekerjaan sambilan, seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Pekerjaannya boleh apa saja, mereka hanya ingin cepat- cepat berlibur bersama.

Di suatu kolom yang mengiklankan berbagai pekerjaan, ada dua pekerjaan yang mereka lirik: menjadi pelayan di sebuah rumah keluarga kaya, atau menjadi penjaga sebuah toko baju. Kedua pekerjaan ini dilirik karena gajinya yang besar per hari. Jika bekerja di rumah keluarga kaya, mungkin mereka akan berurusan dengan anak- anak, atau bahkan majikannya itu sendiri, yang rewel dan sering menempatkan mereka di posisi sulit. Lalu jika mereka bekerja di toko baju, Atsushi alergi debu dan sering bersin- bersin bahkan kalau sedang menemani Tomoe berbelanja, sedangkan Tomoe sendiri cepat lelah jika berdiri lama- lama di satu tempat, padahal di toko itu semua pegawainya harus berdiri terus selama beberapa jam. Maka akhirnya mereka putuskan untuk melamar pekerjaan di rumah keluarga kaya sebagai pelayan.

Karena hari masih siang, mereka langsung mendatangi alamat yang tertera di sana saat itu juga. Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh pagar yang tinggi menjulang dan kamera pengintai yang sibuk bergerak ke sana kemari. Tak lama seorang penjaga keluar dan menanyakan maksud kedatangan mereka. Atsushi menyodorkan kertas iklan yang mereka baca dan mengatakan bahwa mereka datang untuk melamar sebagai pekerja sambilan.

Penjaga itu kemudian membukakan gerbang dan mengantar mereka ke suatu tempat. Di sana sudah ada seorang wanita paruh baya yang pakaiannya sangat rapi dan terlihat tegas. Penjaga itu meninggalkan Atsushi dan Tomoe kembali ke posnya.

Wanita itu duduk menghadapi mereka dengan berperantarakan sebuah meja. Langsung setelahnya ia pun mempersilakan Atsushi dan Tomoe duduk di kursi di depannya.

“Namaku Kaminari Otome. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini. Saya yang memberi bimbingan untuk semua pelayan baru. Saya juga yang nantinya jadi pembimbing kamu kalo jadi kerja di sini. O iya, siapa yang mau kerja di sini? Kamu? Atau kamu?” tanya Kaminari setelah ia selesai memperkenalkan diri.

“Em, sebenernya kami berdua mau melamar kerja sabilan di sini,” jawab Atsushi.

“Kalian berdua? Apa syarat di iklan itu belum jelas? Di sini kan hanya mencari pelayan pria,” jelas Kaminari.

Tomoe cepat- cepat membaca ulang iklan pekerjaan itu. Dan benarlah bahwa yang dicari hanya pelayan pria. Saat suatu kesempatan membuat Kaminari meninggalkan ruangan itu, Tomoe mengajak Atsushi untuk pulang dan memikirkan pekerjaan ini lagi. Ia ingin bekerja sambilan di tempat yang sama dengan Atsushi.

Tak lama Kaminari kembali, Atsushi pun melakukan apa yang diminta kekasihnya dan minta undur diri. Sesaat sebelum pergi, Kaminari menanyakan nama Atsushi untuk dicatat, kalau- kalau ia jadi melamar kerja di sana dan mengucapkan maaf pada Tomoe karena ia tak bisa bekerja di sana.

Selama perjalanan dari rumah besar itu mereka tak saling bicara karena tak enak satu sama lain. Atsushi mulai memikirkan tentang pekerjaan di toko pakaian itu. Mencari- cari solusi apa yang bisa memecahkan kendala mereka untuk bekerja di sana. Tomoe sendiri masih memikirkan tentang pekerjaan di rumah itu. Memikirkan apa yang bisa membuatnya bekerja di sana. Apa yang bisa membuatnya jadi lulus semua persyaratan.

“Mm.. aku udah mikir, gimana kalo kita kerja di toko baju itu aja? Alergi aku kayanya bisa diakalin. Kalo kamu..” omongan Atsushi terputus. Ia memperhatikan Tomoe yang begitu diam di sebelanya. Kemudian ia mulai mencari wajah Tomoe yang tersembunyi dibalik rambutnya karena ia menunduk.

“Itu dia!” kata Tomoe tiba- tiba.

“Hah? Apa?”

“Aku ga bisa kerja di sana karena aku bukan cowo. Berarti aku tinggal jadi cowo!” kata Tomoe gembira.

Atsushi tak mengerti maksud ucapan Tomoe. Kemudian gadis itu menjelaskan pemikirannya untuk menyamar menjadi pria agar ia bisa bekerja bersama di rumah itu. Awalnya Atsushi tidak begitu yakin dengan ide Tomoe. Tapi Tomoe berjanji semuanya akan baik- baik saja.

Esoknya mereka berdua datang lagi ke rumah itu. Tapi dengan tampilan beda pada Tomoe: ia memotong rambutnya dan meminjam pakaian Atsushi yang kira- kira besarnya cocok di badannya, lalu ia juga memakai semacam kain yang melilit bagian dadanya kencang untuk membuatnya rata.

Begitu bertemu dengan mereka, Kaminari memperkenalkan dirinya pada Tomoe, karena ia pikir mereka belum pernah bertemu. Lalu ia meminta nama jelas mereka karena kali ini mereka benar- benar melamar pekerjaan.

“Namaku Hinagiku Atsushi.”

“Aku Kiri.. ehm, Kurosaki Tomoya.”

Selain mereka ada satu lagi pegawai baru, namanya Ken Yukihiro. Mereka diberi pengarahan tentang pekerjaan yang natinya akan menjadi tanggung jawab mereka. Kalau sudah mulai bekerja, mereka harus sudah datang pada jam enam pagi, dan jam kerja resmi selesai pukul lima sore hari.

Mendekati jam sepuluh pagi, Kaminari membawa mereka berkeliling rumah. Menjelaskan segala hal yang mereka lewati. Termasuk salah satunya adalah ruang kendo. Kaminari menunjukkan apa- apa saja yang harus dilakukan untuk merawat ruangan itu. Kebetulan waktu itu Matsuya sedang istirahat dari latihannya dan ia melihat rombongan yang dibawa Kaminari.

“Oh, kebetulan sekali, perkenalkan ini adalah tuan muda Azusagawa Matsuya. Anak pertama dari keluarga Azusagawa. Ia sudah membuat banyak prestasi di bidang kendo,” Kaminari memperkenalkan pada para pegawai baru.

“Selamat siang, tuan. Bagaimana latihan anda hari ini? Ada yang perlu saya lakukan untuk anda?” kata Kaminari pada Matsuya.

“Nggak. Trima kasih,” jawab Matsuya.

Kaminari kemudian mengangguk hormat dan membalikkan badan. Begitu juga dengan para pegawai yang dibawanya. Sebelum rombongan itu meninggalkan ruangan, Matsuya memanggil salah satu pegawai baru.

“Hei, siapa nama kamu?” tanya Matsuya.

“Hah? Aku?”

“Iya.”

“Aku Kurosaki Tomoya. Salam kenal,” jawab Tomoe agak sungkan.

“Salam kenal,” balas Matsuya.

Tomoe agak berdebar waktu Matsuya tersenyum padanya. Tentu tuan muda keluarga kaya itu ‘good loking’. Tapi dalam hati, Tomoe menegaskan bahwa hatinya hanya untuk Atsushi seorang.

Seusai pengenalan lokasi kerja, para pegawai baru itu diberi seragam dan diizinkan pulang. Mereka baru akan bekerja mulai besok.

“Kamu seneng ya tadi diajak kenalan?” tanya Atsushi.

“Hah?” Tomoe menoleh cepat karena pertanyaan Atsushi. Kemudian ia melihat wajah Atsushi yang tertekuk- tekuk.

“Kamu cemburu ya?” tanyanya kemudian sambil senyam- senyum.

Atsushi hanya diam tak menjawab. Tomoe menghentikan langkah Atsushi dengan berjalan ke depan Atsushi lalu berdiri diam. Membuat mereka tak bergerak ke mana- mana. Atsushi tetap tak mau menatap mata Tomoe, ia memalingkan wajahnya. Tomoe tahu kekasihnya itu sedang cemburu berat. Maka dipeluknya Atsushi dan dikatakannya kalau ia tak perlu khawatir. Tomoe menegaskan bahwa Atsushi bisa mengandalkannya untuk tidak berpindah hati. Masih tetap tidak mengatakan apa- apa, Atsushi hanya membalas pelukan Tomoe sebagai jawabannya.



Desire II

Hari Pertama


Tomoe gelagapan karena bangun kesiangan beberapa menit. Ia paling benci bangun telat meski hanya sedikit. Karena perfeksionismenya, ia butuh cukup banyak waktu untuk merapikan (baca: menata) penampilannya hingga mencapai standar kesempurnaannya sendiri.

Benar saja, Atsushi sudah datang menjemputnya sebelum ia selesai berdandan. Setelah menyelesaikan dandanannya sedikit terburu- buru, akhirnya ia keluar kamar dengan wajah kesal.

“Kamu kenapa?” tanya Atsushi.

Yang kemudian dijawab dengan rentetan cerita panjang penuh kekesalan dari Tomoe. Atsushi tersenyum kecil dan menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tinggkah kekasihnya itu yang dirasanya tak pernah berubah dari dulu. Ia lalu menghibur Tomoe di sepanjang jalan menuju tempat kerja mereka yang baru.

Sesampainya di rumah keluarga Azusagawa, Tomoe dan Atsushi sama- sama menarik napas panjang menyiapkan mental masing- masing. Kemudian mereka menghadap Kaminari untuk menanyakan tugas yang harus dikerjakan. Begitu mendengar tugas pertama Tomoe, atau di sini Tomoya, adalah mengantarkan sarapan untuk Matsuya, Atsushi langsung emosi. Tomoya juga kaget, ia langsung menoleh ke arah Atsushi mendapati wajah kekasihnya itu memerah. Sambil mengingat bahwa sekarang ia adalah seorang pria, ia menepuk punggung Atsushi sambil tertawa.

“Wah, semoga aku ga numpahin apa- apa. O ya, kalau temanku ini, apa tugas pertamanya?” kata Tomoya berusaha mencairkan suasana.

“Tugas kamu membersihkan ruang latihan kendo,” kata Kaminari pada Atsushi. “Kalau kamu sudah selesai nganter sarapan, kamu bisa bantu dia bersihin dojo,” katanya kemudian pada Tomoya.

Sambil berjalan ke dapur, Tomoya meyakinkan Atsushi bahwa semuanya akan baik- baik saja. Ia juga tak mau ada yang berantakan di hari pertama bekerja di sana. Atsushi kemudian mengingat sifat kekasihnya yang perfeksionis. Sebelum berpisah dengan Tomoya karena ia akan pergi ke dojo, Atsushi berjanji akan percaya padanya dan berusaha untuk tidak cemburu lagi.

Saat mereka sedang saling menatap sambil tersenyum, Ken tiba- tiba muncul membuat Atsushi kalang kabut.

“Tomoya! Aku dari tadi nyari- nyari kamu loh! Katanya kamu disuruh nganterin makan buat yang mulia tuan muda Matsuya ya? Kalo aku disuruh nganterin sarapannya yang mulia nona Momiji. Kamar mereka kan deketan, nganterinnya bareng yuk!” cerocos Ken tanpa jeda sambil langsung menarik tangan Tomoya.

Lagi- lagi Atsushi dihantam cemburu melihat kekasihnya yang digandeng sembarangan oleh orang lain. Tapi ia menarik napas panjang mengingat bahwa mereka sedang dalam penyamaran, dan bahwa kekasihnya itu sekarang sedang menjadi pria. Jadi ia tak boleh cemburu jika Tomoya digandeng atau akrab dengan pelayan lainnya yang hampir semuanya laki- laki. Ia berjalan menuju dojo sambil mengingat janjinya untuk mempercayai Tomoe.

Beberapa saat setelah ia mulai membersihkan dojo, suara Tomoya yang sedang mengobrol dengan Ken terdengar semakin mendekat. Ia senang karena Tomoya akhirnya akan mengerjakan pekerjaan yang sama dengannya, sekaligus sebal karena Ken juga akan ada di sana. Membayangkan nantinya Ken yang akan mendominasi pembicaraan membuatnya semakin jengkel. Ia terus menyimak obrolan dua suara itu. Sampai di ujung pembicaraan ia mendengar kalimat, “Yah, aku harus ke taman. Laen kali kita bareng- bareng lagi ya!”, yang dikenalinya sebagai suara Ken. Hatinya melonjak gembira mengetahui akhirnya mereka bisa berduaan.

Waktu Tomoya muncul di ambang pintu, hampir saja ia berseru menyapa tapi suaranya tertahan karena di detik berikutnya, ia juga melihat Matsuya yang sudah berpakaian ala kendo berjalan berdampingan dengan Tomoya. Maka tahulah ia bahwa si tuan muda itu akan latihan. Sepagi ini?

Matsuya terlihat begitu ramah pada Tomoya, setiap perbincangan mereka pun selalu diselingi tawa. Tomoya hanya tersenyum kecil pada Atsushi saat mereka masuk, menyapa kekasihnya secara non verbal. Ia pikir Tomoya hanya mengantar Matsuya ke dojo, kemudian akan segera bergabung dengannya merapikan dojo. Ternyata tidak, Tomoya masih berjalan beriringan dengan Matsuya sampai di depan lokernya lalu membantu tuan muda itu memasang pelindung kendo. Ia masih menahan diri untuk tetap tinggal di ruangan itu melihat semua pemandangan yang membuatnya sesak napas.

Tomoya yang tadinya bersama majikan mereka mendatangi Atsushi. Dipikirnya, gadisnya itu sudah selesai dengan Matsuya dan akan mulai membantunya. Tanpa disangka, Tomoya hanya berkata, “Atsushi, bisakah kamu mengambilkan air minum untuk Matsuya?”

“Hah?” Atsushi kaget mendengar ucapan dingin Tomoya.

Kekasihnya itu tidak seperti yang selama ini dikenalnya. Ia seperti bukan dirinya lagi. Kaget setengah marah, Atsushi pergi dari ruangan itu untuk menganbil air minum yang diminta Tomoya. Sepanjang perjalanan ke dapur, ia berpikir macam- macam tentang Tomoya: kemarahannya, rasa cemburunya, ketidakmengertiannya akan perubahan sikap Tomoya yang begitu drastis. Tapi ada sebersit perasaan suka yang rasanya lebih dari selama ini terhadap Tomoya yang membuatnya tak bisa marah.

Pekerjaan berakhir pada jam lima sore. Atsushi dan Tomoya jalan bersebelahan dalam diam dinaungi langit senja yang memerah dibalut berkas- berkas biru tua. Langit yang begitu indah sore itu tak membuat satu pun dari mereka memulai pembicaraan.

Mereka terus begitu hingga tiba di depan apartemen Tomoe. Tepat setelah sampai, Atsushi langsung membalik badan lagi untuk pulang ke apartemennya sendiri.

“Sudah ya,” kata Atsushi lalu meninggalkan Tomoe.

“Atsushi!” seru Tomoe menahan langkah kekasihnya. “Kamu marah ya?”

Atsushi hanya mematung tak menjawab. Tomoe mendatanginya dan memeluknya dari belakang, tanpa disambut tangan Atsushi yang menggenggam balik tangan Tomoe.

“Maaf,” kata Tomoe singkat. Tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.

Setelah beberapa saat dalam posisi seperti itu, Tomoe mendengar Atsushi menghela napas panjang kemudian dirasakannya tangan hangat Atsushi menggenggam jemarinya.

“Sekarang kamu sedang jadi siapa? Tomoe atau Tomoya?” tanya Atsushi dingin.

“Kalo emang kamu butuh jawaban, aku sekarang Tomoe,” jawabnya.

Tak lama Atsushi membalik badannya dan memeluk Tomoe yang ia rasa tangannya mulai lemas. Ia tahu, berat bagi Tomoe menghadapi sikapnya sekarang ini, bahwa gadis itu juga berada di posisi yang sulit.

“Kamu beda banget. Antara Tomoe sama Tomoya kaya orang laen. Maaf, tapi aku jadi sering ga yakin kalo kamu bakalan bareng sama aku terus. Aku ga mau kamu sama orang laen. Aku mulai mikir, gimana kalo kita keluar aja? Terus kita cari kerjaan yang laen?” kata Atsushi masih sambil memeluk Tomoe.

“Ga perlu. Kerjaan yangini udah bagus. Sayang kalo dilepas,” jawab Tomoe.

“Kerjaannya yang bagus atau yang ngasih kerjaannya yang bagus?” sindir Atsushi.

“Kerjaannya,” kata Tomoe singkat lalu mencium bibir Atsushi.

Pada saat itu air mata Atsushi hampir jatuh, ia cepat- cepat memeluk kekasihnya itu lagi. Baru akhirnya ia meninggalkan apartemen Tomoe dan berjalan pulang.

Entah sejak kapan. Atau baru hari ini? Ia merasakan suatu perasaan yang belum pernah ada sebelumnya. Atsushi memang selalu menyayangi Tomoe dengan tulus sepenuh hati, juga tak mau kehilangannya. Tapi kali ini rasanya ia begitu menyukai kekasihnya itu, selalu ingin bersama, selalu mencari sosoknya di tiap sela- sela aktifitasnya, begitu tak ingin kehilangan.



Desire III

Akhirnya, Break!!


Suatu hari keluarga Azusagawa pergi berwisata ke salah satu fila milik mereka di pulau tropis. Perjalanan ini memakan waktu beberapa hari, sebagian pelayan ikut ke sana untuk melayani selama wisata. Karena pelayan sambilan tidak bisa ikut, maka hari ini Atsushi dan Tomoe mendapat liburan.

Merasa sudah sekian lama mereka tidak pergi main berdua karena jam kerja sambilan yang hampir seharian, Atsushi mengajak Tomoe pergi ke taman hiburan. Sesuai janji, Atsushi menjemput Tomoe jam sembilan di apartemennya. Tomoe sudah memakai dandanannya yang biasanya sebelum mereka bekerja di rumah keluarga Azusagawa. Waktu pintu mengayun terbuka, penantian Atsushi yang bagai tak berujung sirna rasanya. Tapi detik berikutnya saat ia sudah melihat Tomoe, ia merasakan sesuatu yang hambar. Entah ke mana semua perasaan sayang dan sukanya itu. Walau pun bingung, ia tetap bersikap manis pada Tomoe.

“Sekarang aku yakin kamu Tomoe,” sapanya sambil tersenyum.

Tomoe membalas senyuman Atsushi kemudian menggamit lengannya.

Sesampainya di sana, setiap mereka tertawa bersama, setiap Tomoe menoleh dan tersenyum padanya, setiap Tomoe bergelayut manja di lengannya, Atsushi merasa hatinya tercekat. Membuat wahana menegangkan yang mereka naiki terasa seperti angin lalu. Atsushi benar- benar bingung apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Malamnya, seusai bermain bersama Tomoe, seperti biasa Atsushi selalu mengantarnya pulang. Rupanya Tomoe menyadari atmosfer dingin yang melingkupi mereka dari tadi.

“Atsushi, kamu kenapa sih? Hari ini kamu beda. Ga kaya biasanya,” kata Tomoe.

“Ga tau. Aku juga bingung. Aku sendiri ga tau aku kenapa. Aku hanya ngerasa butuh sendirian,” jawabnya sambil tidak menatap mata Tomoe.

Tomoe memperhatikan raut wajah Atsushi yang penuh dengan kebimbangan.

“Ya udah, kalo gitu kamu pulang aja sekarang. Ada aku juga ga akan bantu,” kata Tomoe.

Atsushi cepat- cepat melihat wajah Tomoe mencari kepastian akan maksud kalimat barusan. Ternyata gadis di depannya itu tersenyum tulus menyuruhnya pulang, bukan karena jengkel atau tak peduli. Maka ia mengecup kening Tomoe sebelum akhirnya pulang.

“Maaf ya, akhir- akhir ini aku banyak nyusahin kamu,” kata Atsushi.

Tomoe menggeleng, “Ati- ati pulangnya.”



Desire IV

Back to work


Pagi- pagi waktu membukakan pintu untuk Atsushi yang sudah menjemputnya bekerja, hal pertama yang dilihatnya adalah Atsushi demam. Otomatis Tomoe menariknya masuk dan menyuruh Atsushi duduk di dekat perapian. “Kamu demaaaam?!” adalah sapaan pertamanya untuk Atsushi. Ia langsung membuatkan minuman hangat.

“Kamu ga pa- pa kalo tetep kerja? Udah sarapan belum? Kalo mau, aku buatin sesuatu ya? Eh, kamu maunya dibuatin apa?” cecar Tomoe panik.

Atsushi memperhatikan Tomoe yang sudah dalam dandanan Tomoya kalang kabut ke sana ke mari mengkhawatirkan kondisinya. Ia tersenyum geli, yang kalau diteruskan akan berkembang jadi tawa kecil.

“Aku ga pa- pa. Coba kamu sini aja. Aku kedinginan,” jawabnya terdengar lemah.

“Kedinginan? Mau aku ambilin selimut? Ato jaket?” tanya Tomoya cepat.

“Ga. Udah kamu sini aja. Masih ada sepuluh menit sebelum berangkat. Kita berbagi suhu badan aja biar aku ga kedinginan,” kata Atsushi.

Tomoe jadi sedikit deg- degan mendengar ucapan Atsushi. Baru pertama kali ia dengar kekasihnya mengucapkan kalimat semacam itu.

“Sini,” katanya sambil membuka tangan menyambut Tomoya yang berjalan mendekat.

Tomoe lalu duduk di pangkuan Atsushi yang langsung disambut dengan pelukan. Ia lalu memeluk leher Atsushi, mengelus rambutnya, atau kadang memainkan rambut kekasihnya. Lama kelamaan ia merasakan panas akibat tubuh mereka yang menempel satu sama lain (perapian tak begitu membantu).

“Kamu aneh akhir- akhir ini. Kadang kamu begitu ramah. Tapi di saat yang lain kamu begitu dingin. Kadang aku jadi bingung,” ucap Tomoe lirih.

Tomoe tak mendengar jawaban apa pun dari mulut Atsushi. Ia hanya merasa Atsushi mengeratkan pelukan di pinggangnya.

“Udah hampir sepuluh menit. Hmmmh..” kata Atsushi mendengus sambil memeluk Tomoya erat sampai- sampai tangannya menyentuh bagian punggung, sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu.

“Ayo berangkat, Tomoya! Eh..” ajak Atsushi. Yang kemudian meledakkan tawa mereka berdua karena Atsushi yang salah memanggil nama Tomoe padahal penyamaran belum dimulai.

Sepanjang jalan, mereka mengobrol layaknya sesama laki- laki. Tomoe sudah mulai terbiasa menjaga sikapnya saat ia sedang menjadi Tomoya. Mereka memang sepasang kekasih, normal jika bermesraan. Tapi siapa yang tahu kalau Tomoya sebenarnya perempuan? Di mata orang, yang terlihat adalah dua orang lelaki berjalan bersama.

Begitu sampai di kediaman Azusagawa, Matsuya sudah menyambut mereka dengan cara menggoda Tomoya.

“Hei Tomoya, pagi ini cukup dingin. Apa kamu kedinginan?” tanya Matsuya.

“Oh enggak. Malah Atsushi yang demam,” jawabnya.

“Oh ya?” katanya langsung mendekati Atsushi dan menempelkan dahinya di dahi Atsushi.

Atsushi reflek menarik mundur badannya. Ia kaget melihat wajah Matsuya yang tiba- tiba sangat dekat dengan wajahnya, bahkan dahi mereka menempel.

“Iya. Kamu panas,” ucap Matsuya kemudian dengan wajah serius.

“Tuh kan..” timpal Tomoya.

“Kamu boleh pulang kalo mau. Ga usah maksain diri. Nanti aku aja yang bilangin ke Kaminari,” tawar Matsuya.

“Nah, kamu sama aku aja, Tomoya,” katanya kemudian pada Tomoya.

“Enggak, aku tetep kerja,” jawab Atsushi cepat- cepat.

Tomoya menahan tawa melihat tingkah kekasihnya itu. Ia tadi membayangkan Atsushi yang punya ekor dan telinga kucing, lalu semua bulunya berdiri marah waktu menjawab omongan Matsuya.

“Apa- apaan sih dia?” kata Atsushi waktu berjalan ke ruang loker pegawai, “Apa maksudnya kamu sama dia aja?”

“Udah, udah..” kata Tomoya sambil tertawa ringan menepuk punggung Atsushi.

“Ukh.. kamu.. bener- bener ga kaya cewe,” kata Atsushi kemudian.

“Hohohooho! Aku kan..”

“Siapa yang ga kaya cewe?” tiba- tiba Ken datang mengejutkan pasangan itu, “Kalian lagi main apa?”

“Hai, Ken. Kamu dateng pagi banget,” Tomoya berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Iya. Akhirnya kita ketemu lagi ya, Tomoya. Aku kangen banget,” kata Ken sambil menggelendoti tangan Tomoya, “Ayo kita nganter sarapan bareng lagi!”

Sebenarnya Atsushi sudah cemburu melihat Ken dan Tomoya begitu akrab. Tapi melihat gaya Tomoya yang begitu cool, ia jadi yakin kekasihnya itu tak menaruh perasaan apa- apa pada orang di sebelahnya. Maka ia jalan mendahului dua orang itu ke ruang loker. Saat bertemu mata dengan Tomoya, ia tersenyum seakan mengatakan bahwa ia mengerti.

Loker Tomoya dan Ken berdekatan. Atsushi sempat memperhatikan tingkah mereka yang seperti anak- anak, namun bagaimana pun ia tetap saja cemburu. Sebelum meninggalkan ruangan, Atsushi mendatangi Tomoya lalu mengancingkan kancing baju Tomoya yang paling atas dari arah belakang, jadi tangannya melingkari leher Tomoya dan dadanya menempel ke punggung Tomoya. Ia sengaja melakukan ini untuk secara tidak langsung menyuruh Ken jaga jarak dari kekasihnya, bahwa Tomoya yang ada di dalam lingkaran lengannya saat itu adalah ‘milik’nya.

Setelah melakukan itu semua Atsushi pergi tanpa bicara. Ia hanya mendengar suara Ken di belakangnya yang berkata, “Wuaah, kalian seakrab itu ya?”

Hari itu Tomoya seharian bekerja dengan kancing baju tertutup rapat, padahal biasanya ia selalu membiarkan kancing bajunya yang paling atas terbuka. Tentu itu semua karena Atsushi yang mengancingkannya.

Bahkan Matsuya pun sampai berkomentar, “Rasanya ada yang beda di kamu hari ini. Tapi apa ya?”

Tomoya hanya tersenyum sambil terus menyapu kamar Matsuya.

“Oh! Kancing! Iya kan? Hari ini kamu kancingin baju kamu sampe atas!” lanjutnya.



Desire V

Hari- hari Atsushi


Setelah kejadian kancing baju dan demamnya tempo hari, Atsushi jadi semakin berani menunjukkan hubungan mereka bahkan selama sedang bekerja di rumah keluarga Azusagawa. Ia jadi sering terlihat sedang berduaan dengan Tomoya.

Tanpa disadarinya, tindakannya ini menarik kecemburuan dari Matsuya dan Ken. Dan mereka justru jadi semakin sering membuat Atsushi berada di posisi sulit.

Pernah suatu malam, semua anggota keluarga Azusagawa sedang sibuk dengan urusannya masing- masing. Keluarga ini memang tipikal keluarga dingin yang jarang berkumpul dan saling tatap muka satu sama lain. Yang tersisa untuk makan malam di rumah hanyalah Matsuya. Malam itu Atsushi benar- benar habis dibuatnya lelah bekerja, sekaligus olahraga emosi. Berkali- kali Matsuya minta ganti menu makanan. Dengan alasan ini dan itu, ia membuat Atsushi mondar- mandir dapur – ruang makan. Ditambah lagi ia minta Tomoya untuk stay di ruangan itu menemaninya.

Lalu Ken, sebagai sesama pegawai menyulitkan Atsushi dengan cara sok akrab dengan Tomoya, yang tentu membangkitkan kecemburuan Atsushi, dan cari muka pada majikannya. Ini terjadi pada pagi hari waktu Atsushi dan Tomoya baru datang. Tidak seperti biasanya pagi itu Ken sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Baru pada saat Atsushi masuk ke dojo, di sanalah ia melihat Ken. Pemuda itu sedang mengepel lantai dojo. Di sana ada nona Momiji berdiri di sebelahnya seperti mengawasi pekerjaan Ken.

Begitu melihat Atsushi, Momiji langsung menegurnya, “Apa kamu yang biasanya ngebersihin dojo?”

“I..ya. Ada apa, nona?” jawab Atsushi terbata.

“Kemarin ada pecahan kaca di sini. Apa kamu ga liat? Kaki Matsuya hampir aja luka,” jelasnya emosi.

Atsushi minta maaf pada Momiji dan meminta pel yang ada di tangan Ken untuk melanjutkan pekerjaan yang semestinya adalah tanggung jawabnya.

Tapi Ken menolak, “Enggak, biar aku aja yang bersihin dojo hari ini,” katanya pada Atsushi.

“Nona, anda bisa mempercayakan dojo ini pada saya hari ini. Saya jamin bahkan secolek debu pun ga ada!”

“Ya sudah Atsushi, hari ini kamu gantiin tugas dia aja,” kata Momiji sebelum meninggalkan ruangan itu.

Atsushi tadinya sudah merasa senang mengingat tugas Ken tiap pagi adalah mengantarkan sarapan bersama Tomoya. Tapi begitu ia sampai di dapur, pelayan di sana mengatakan kalau hari itu Matsuya akan pergi bersama Momiji ke suatu tempat, makanya mereka sudah sarapan pagi- pagi sekali dan sekarang sudah siap untuk berangkat. Akhirnya Atsushi memutuskan mencari Tomoya karena dia pikir tugas kekasihnya itu pun kosong dan mereka bisa menghabiskan jam kosong itu bersama. Namun didapatinya Tomoya sedang berada di dojo membantu pekerjaan Ken.

Hari itu merupakan hari terburuk bagi Atsushi, tidak hanya tingkah Ken yang menyebalkan, ia juga merasa seperti pengangguran. Semua pekerjaannya diambil alih oleh Ken dan di setiap pekerjaannya, Ken dibantu oleh Tomoya.



Desire VI

Tomoya sakit dan debaran pertama Atsushi


Atsushi merapatkan jaketnya dan memasukkan kedua tanganya dalam- dalam ke kantung karena udara yang terasa dingin menusuk. Ia sedang dalam perjalanan menuju apartemen Tomoe untuk menjemputnya ke tempat kerja. Sesampainya di sana, ia melihat Tomoe yang sudah menjadi Tomoya membukakan pintu dengan wajah memerah. Kontan ia menempelkan punggung tangannya di kening dan sekitar leher Tomoya.

“Kamu demam,” katanya.

“Aku tau,” jawab Tomoe singkat.

“Terus kamu mau tetep kerja?”

“Iya lah,” kata Tomoe sambil berjalan ke arah sofa, “Ntar, aku pengen duduk bentar.”

Ditunggunya Tomoya bergerak setelah duduk sekian lama, tapi tak kunjung juga penantiannya berakhir. Atsushi lalu mendatangi Tomoya dan menyentuh lengannya. Ternyata Tomoya tertidur. Tanpa pikir panjang Atsushi mengambil dua lembar selimut kemudian menyelimuti tubuh mungil Tomoya, ia juga membuka ikat pinggang Tomoya dan kancing celananya supaya tidak sesak. Sebelum pergi ia mengecup kening Tomoya dan beberapa saat memandangi wajah Tomoya yang sedang tidur. Rasanya ia tak ingin berangkat kerja dan terus memandangi wajah itu.

Di sepanjang jalan menuju rumah keluarga Azusagawa, ia memikirkan Tomoya dan wajah mungilnya yang tak terlupakan. Mungkin Tomoya sakit karena kemarin main sampai hampir subuh bersamanya. Dipikir- pikir, kondisinya pagi ini juga tidak begitu baik, ia merasa kurang enak badan. Ini pasti karena kemarin terlalu lelah dan kurang tidur, ditambah lagi tubuhnya yang harus menghadapi cuaca dingin.

Memikirkan hal ini membuat Atsushi kembali teringat akan hari kemarin saat ia sedang bermain di mall bersama Tomoe. Lagi- lagi perasaannya aneh. Ia merasa tak begitu menyukai orang di depannya itu. Setiap Tomoe tersenyum padanya, ia malah ingin buang muka. Padahal apa yang salah dengan gadis itu? Atsushi tetap menyayangi Tomoe, tapi entah kenapa ia hanya merasa seperti tak mau melihatnya. Aneh, pikirnya. Dan hal ini sudah berulang beberapa kali, setiap mereka pergi bersama sebagai diri mereka yang sebenarnya. Atsushi mulai berpikiran aneh: jangan- jangan ia tak suka jika Tomoe berpenampilan sebagai perempuan? Ia lebih suka Tomoe saat menjadi laki- laki. Maka dari itu ia selalu cemburu melihat Tomoya dekat dengan lelaki lain, sedangkan saat bersama Tomoe yang sesungguhnya, ia malah merasa hambar.

Pagar rumah Azusagawa menyadarkannya tak ada lagi waktu untuk berpikir dan melamun, maka ia berusaha membuang pemikiran aneh itu jauh- jauh. Begitu selesai menaruh jaket di lokernya, di depan pintu keluar ruangan ia melihat Ken sudah menantinya membalik badan.

“Pagi Atsushi!” sapanya ceria seperti biasa, “Mana Tomoya?”

“Pagi. Tomoya sakit. Hari ini dia ga masuk kerja,” jawabnya, “Kalo ada kerjaan Tomoya yang perlu aku gantiin, bilang aja.”

Tak disangka Ken benar- benar memberikan berbagai pekerjan pada Atsushi hingga hari itu ia sibuk sekali. Begitu satu pekerjaan selesai, suara Ken sudah kembali bergema memanggil namanya untuk memberikan pekerjaan yang selanjutnya. Atsushi kerepotan mengurus pekerjaannya sekaligus pekerjaan dari Ken, ia pikir mungkin Ken mengerjainya, mungkin ia juga menyuruh Atsushi mengerjakan beberapa tugasnya, tidak hanya tugas Tomoya.

Sekitar jam dua atau tiga sore, saat pekerjaan sudah mulai jarang, terkadang ada majikan yang minta dikirimkan cemilan ke ruangan tempat mereka berada. Pada hari itu, orang yang meminta cemilan adalah Matsuya. Ia minta dikirim cemilan ke kamarnya. Pelayan yang memegang bagian dapur sudah menyiapkan segalanya termasuk teh panas dan dua butir tablet di nampan. Tanpa bertanya, Atsushi, yang kebetulan ada di sana dan jadi kebetuan harus mengantar cemilan ke kamar Matsuya, hanya memperhatikan tablet itu dan mengirimkannya.

Ia mengetuk pintu kamar Matsuya lalu membukanya, matanya langsung disambut oleh pemandangan serba abu- abu di kamar itu. Hal kedua yang diperhatikannya adalah Matsuya yang sedang tidur di ranjang berselimut tebal, sepertinya ia demam. Atsushi pun berjingkat supaya tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Matsuya, kemudian ia meletakan nampan itu di meja di sebelah tempat tidur. Baru saja ia akan pergi saat pandangannya tiba- tiba hinggap di wajah Matsuya yang tertidur begitu damai. Ia seakan terhipnotis dan tak bisa melepaskan matanya dari wajah itu, mengagumi tiap lekuk dan bayangan pada wajah itu. Di tengah keterhanyutannya, tiba- tiba Matsuya membuka mata dan menatap langsung kedua bola mata Atsushi. Sepertinya dari tadi sebenarnya dia tidak tidur.

Atsushi terkejut setengah mati dan dengan sigap langsung menarik badannya ke belakang.

“Kenapa? Cakep ya?” tanya Matsuya dengan wajah tanpa ekspresi.

“Eh, itu.. Cemilannya sudah saya antarkan. Maaf, saya permisi,” katanya buru- buru.

Matsuya hanya memperhatikan Atsushi yang langsung kabur keluar dari kamarnya. Setelah berusaha menutup pintu sepelan mungkin, Atsushi lari ke ruang loker. Untung di sana tidak ada orang, pikirnya, sehingga dia bisa menenangkan dirinya. Ia mengambil tempat di salah satu kursi dan duduk sambil memegangi dadanya yang naik turun dengan cepat. Ia bingung kenapa ia bisa begitu berdebar hanya karena bertatapan dengan Matsuya. Sebersit pikiran gila mampir di benak Atsushi: apa jangan- jangan dia suka pada Matsuya?

Merasa pemikiran itu menakutkan Atsushi segera menepisnya, “Ah, enggak. Itu pasti karena kaget aja.”

“Ga, pasti karena gua cakep,” Matsuya tiba- tiba sudah ada di ambang pintu, masih memakai piyamanya, membuat Atsushi terkejut setengah mati.

Dengan sigap Atsushi langsung berdiri dari tempatnya, “T..Tuan muda Matsuya.. emh, itu..”

“Matsuya.”

“Oh, Matsuya, tadi saya hanya mengantar cemilan anda saja. Terus saya liat di nampan ada obat, jadi saya pikir anda sedang sakit.. makanya saya ngeliatin wajah anda dari deket,” jelas Atsushi kalang kabut.

Matsuya hanya memperhatikan tingkah Atsushi dengan seksama, setiap perkataannya, setiap gerak tubuhnya, semua mencerminkan bahwa dia sedang panik. Segala hal yang ada di depan matanya saat ini membuatnya semakin tertarik pada makhluk yang melakukannya. Ia memperhatikan Atsushi tanpa bicara, ia hanya tersenyum tipis dan sorot mata tertariknya itu tak bisa ditutup- tutupi, sampai Atsushi akhirnya tiba pada batas groginya dan minta diri dari ruangan itu.

“Ehm maaf, saya pergi ke dapur dulu. Permisi, tuan Matsuya,” katanya waktu melewati Matsuya di ambang pintu.

“Matsuya.”

Atsushi menoleh, tak bisa mengatakan apa- apa lagi, ia hanya mengiyakan permintaan Matsuya yang ingin dipanggil menggunakan namanya dengan anggukkan.

Setelah kejadian itu, waktu di dapur, waktu menyiram tanaman, di setiap pekerjaannya, Atsushi selalu celingukan bersiaga lari jika sosok Matsuya tertangkap radarnya. Tapi ternyata Matsuya sama sekali tidak muncul lagi sampai akhir dari jam kerja hari itu.

Sepulang dari kediaman Azusagawa, Atsushi mampir ke apartemen Tomoya, sudah dengan seporsi bubur ayam di tangan. Waktu pintu diketuk dan mengayun terbuka, tanpa ia sadari jauh di lubuk hatinya, Atsushi berharap yang membukakan pintu adalah Tomoya. Tapi harapannya itu sirna saat mendapati Tomoe yang membukakan pintu untuknya. Rasa ingin bertemu yang menggebu- gebu selama perjalanan tadi, yang selalu membuat perurtnya terasa melilit, seperti luruh seketika waktu melihat Tomoe dalam balutan baju tidurnya. Baju tidur wanita. Atsushi malah membayangkan sosok Matsuya yang memakai piyama waktu di rumahnya tadi.

Situasi mengerikan ini mendorongnya untuk segera pulang, mencari tempat untuk bisa berpikir seorang diri. Jadi Atsushi hanya mengecup kening Tomoe, memberikan bubur ayamnya, mengucapkan semoga cepat sembuh dan selamat tidur, kemudian langsung pergi dari tempat itu. Semua ini ia lakukan dengan cepat.

Tomoe memandangi punggung Atsushi yang meninggalkannya semakin jauh tanpa bisa berbuat apa- apa. Bingung dan sedih ia menyikapi kekasihnya sekarang ini. Ia merasa, semakin dekat kekasihnya itu di suatu saat, semakin jauh juga dia di saat yang lainnya.



Desire VII

Tomoe mengambil tindakan


“Tomoe, tolong, biarin aku berpikir sendiri dulu bentar. Oke? Aku juga bingung sama diriku sendiri. Aku ga ngerti sama yang aku pikirin dan aku rasain belakangan ini. Kalo kamu hari ini ga kerja, ya udah, aku berangkat sekarang,” kata Atsushi kemudian meninggalkan balkon apartemen Tomoe.

Untuk memperjelas apa yang sedang terjadi, mari kita kembali ke tiga belas menit yang lalu.

Pagi itu Atsushi datang menjemput Tomoe. Waktu mengetuk pintu dan berharap akan segera melihat wajah Tomoya, Atsushi merasa tertampar dengan kenyataan Tomoelah yang muncul di hadapannya. Tolong jangan sampai lupa kalau Tomoe dan Tomoya sebenarnya adalah orang yang sama. Tomoya hanyalah bentuk lain dari Tomoe yang sedang menyamar sebagai laki- laki, tapi sepertinya justru dia yang lebih disukai Atsushi.

Melihat Tomoe yang belum menjadi Tomoya, Atsushi bertanya apakah gadis itu tidak akan pergi kerja hari ini. Namun Tomoe malah memulai perbincangan serius tentang hubungan mereka, mengenai sikap Atsushi yang tidak menentu akhir- akhir ini, yang disanggah Atsushi dengan berkata bahwa ia hanya sering banyak pikiran beberapa hari ke belakang. Tanpa disangka, Tomoe membalas sanggahan itu dengan mengucapkan kalimat yang membuat perut Atsushi mulas.

“Sebenernya, selama ini, yang suka sama Matsuya itu aku atau kamu sih?”

Atsushi yang dari tadi sudah menahan emosinya untuk bersikap ramah pada gadis yang tak lagi menarik perhatiannya itu, kini meledak. Ia menonjok tembok tepat di samping kepala Tomoe lalu mengatakan betapa kejam gadis itu hingga ia sampai berani mengatainya demikian. Pembicaraan setelahnya dilanjutkan dengan pertengkaran; Tomoe yang ingin hubungan mereka kembali seperti dulu dan Atsushi yang tak mau tahu lagi dengan semua itu. Lalu yang terakhir adalah kalimat di awal tadi.

Begitulah hari itu dimulai dengan sangat menjengkelkan bagi Atsushi. Membuatnya terus berwajah masam selama di tempat kerja, yang tak disadarinya, menarik perhatian Matsuya. Tuan muda itu meminta dibawakan handuk ke kamarnya pada salah satu pelayan, tapi ia ingin yang mengantarkannya nanti Atsushi.

Waktu perintah itu sampai ke telinga Atsushi, baru mendengar nama Matsuya saja sudah membuatnya terbelalak.

Kenapa harus dia lagi sih? batinnya.

Walau begitu, Atsushi tetap mengirim handuk itu ke kamar Matsuya. Hal pertama yang disadarinya saat masuk adalah kamar yang begitu berantakan, yang seharusnya tak mungkin terjadi karena pasti ada pelayan yang bertugas merapikannya. Hal berikut yang disadarinya adalah Matsuya yang tergeletak dalam posisi melumah di lantai, di tengah barang- barang yang berserakan di sekitarnya, yang sebagian besar diantaranya adalah benda dari tempat tidur. Ia seakan menarik jatuh seluruh tempat tidurnya ke bawah, lalu tidur di atasnya. Melihat ini semua Atsushi langsung berlari ke arah tubuh itu, khawatir telah terjadi sesuatu padanya.

Setelah Matsuya hanya berjarak setengah meter darinya, dilihatnya mata pria itu melek, sedang melihat ke atas, entah apa yang sedang diperhatikannya.

“Tuan Matsuya, anda tidak apa- apa?” tanya Atsushi berhati- hati.

“Matsuya,” katanya singkat tak menjawab pertanyaan Atsushi, ia juga tak menoleh sama sekali.

“Matsuya, anda sedang apa?” tanya Atsushi lagi.

“Saya sedang melihat ke atas. Masa begitu saja anda tidak tahu?” jawab Matsuya dengan gaya bicara baku yang aneh. “Ga enakeun ya. Enakan kalo gini: ‘Aku sedang liat ke atas. Masa gitu aja kamu ga tau?’ ya kan?”

“Apa maksud anda, Matsuya?”

“Kenapa kamu nganter anduk aja lama banget? Aku jadi terkapar gini gara- gara kamu,” jawabnya, masih dengan tidak menoleh.

“Oh, maaf. Saya kurang tahu yang mana anduk anda, jadi saya butuh waktu mencarinya.”

Mendengar jawaban Atsushi, Matsuya menelengkan kepalanya khusus untuk melihat handuk yang dibawa pelayannya itu, “Anduknya bener. Kamu cari sendiri ato nanya?”

“Saya cari sendiri,” jawab Atsushi.

Matsuya mengembalikan kepalanya ke posisi semula, “Kenapa kamu bisa tahu itu andukku?”

“Em.. ini.. saya ambil dari tumpukkan anduk yang warnanya abu- abu, karena saya liat kamar ini dominan warna abu, saya pikir mungkin anda suka warna abu- abu. Jadi saya ambil yang ini,” jawab Atsushi jadi ikut melihat handuk di tangannya.

“Hoo, jadi kamu bisa nebak warna kesukaan aku. Kalo nebak pikiran aku bisa ga?” kata Matsuya kemudian menatap tepat mata Atsushi.

Atsushi kaget mata mereka tiba- tiba bertemu, dia langsung membuang pandangannya ke arah lain. Disamping ia jadi berdebar- debar kalau memandang mata pria itu lama- lama, kali ini ia merasa ada yang lain di mata Matsuya, yang membuatnya takut. Sorot mata Matsuya penuh dengan kemarahan dan kebencian. Kini satu- satunya yang Atsushi pikirkan adalah mau sampai kapan Matsuya menahannya di kamar itu. Atmosfer ruangan itu membuatnya tertekan.

“O ya,” Matsuya tiba- tiba bersuara, mengejutkan Atsushi. Nada bicaranya terdengar ceria, membuat atmosfer mencekam yang dari tadi menggelayuti setiap pembicaraan mereka menguap entah ke mana. “Sini anduknya. Makasih ya Atsushi,” lanjutnya seraya bangkit berdiri dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Atsushi di tengah ruangan berantakan itu.

Tadinya ia mau berinisiatif membereskan, tapi mengingat ada kalanya seseorang ingin tidak dicampuri urusannya, termasuk dalam hal memberantakkan kamar, maka Atsushi pun keluar dari kamar itu. Segudang pemikiran tentang Matsuya memenuhi kepalanya, membuat dia tak bisa konsentrasi dengan pekerjaan di depah matanya.

Malamnya di tempat tidur, pemikiran itu pun bertambah dengan masalah Tomoe. Atsushi tidak tidur sama sekali malam itu. Biar sudah ditunggunya, rasa kantuk tak juga sudi hinggap di pelupuk matanya. Mungkin sudah tak ada lagi tempat bagi rasa kantuk di kepalanya yang penuh malam itu.

Ia terus terjaga sampai pagi tiba. Dengan mata menerawang ia mandi dan bersiap- siap berangkat ke rumah Matsuya. Masih juga belum diputuskannya hari ini dia akan menjemput Tomoe atau tidak. Dia pikir, biar kakinya saja yang menentukan, apakah ia akan menjemput gadis itu pagi ini.

Beberapa menit berjalan, dan kakinya memutuskan untuk menjemput Tomoe, maka tibalah Atsushi kini di depan pintu kamarnya. Pria banyak pikiran itu masih tetap tidak peduli, ia belum memutuskan apakah akan mengetuk pintu yang sudah di depan hidungnya atau diam entah sampai kapan. Lagi- lagi anggota tubuhnya yang mengambil keputusan, tanganya berinisiatif membuat bunyi ketukan di bongkahan balok kayu yang memisahkan kamar Tomoe dari dunia luar. Lalu keluarlah gadis itu, sudah berpakaian a la Tomoya.

Atsushi memandanginya lama, berharap setidaknya ia masih memiliki perasaan khusus pada ‘Tomoe yang lain’. Ternyata tidak, bahkan perasaanya pada Tomoya sekarang sudah sirna.

“Jadi hari ini kamu kerja?” Atsushi memutuskan mengakhiri kebisuan.

“Iya,” kata Tomoe singkat sambil menunduk. Tak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya lagi. Matanya bergerak- gerak seperti mencari sesuatu untuk dikatakan, tapi tak juga ketemu. “Ya udah, berangkat yuk,” kata Tomoe akhirnya.

Sepanjang perjalanan sampai kediaman Azusagawa, mereka tak saling bicara, bahkan sampai ruang loker, sampai dua- duanya harus berpisah karena berbeda tugas, waktu Atsushi melihat Tomoya digandeng- gandeng Ken, bahkan sampai jam kerja hari itu hampir habis. Barulah menjelang sore hari, Tomoya mendatangi Atsushi dan bilang mereka perlu membicarakan hubungannya dengan serius. Hari ini juga, sepulang kerja.

Maka mereka memutuskan untuk pergi ke apartemen Tomoe dan berbincang di sana.

“Jadi kamu udah tau,” kata Atsushi mengawali.

“Tau apa?”

“Kalo aku ternyata suka laki- laki,” ucap Atsushi sambil menahan getir kata- katanya sendiri. “Hebat ya kamu udah nyadar lagi. Secepat itu kamu nyadar. Aku aja selalu bimbang. Aku selalu ragu, takut sama pikiran aku sendiri kalo aku udah mulai mikir yang aneh- aneh. Takut kalo aku aneh,” ia berhenti sejenak mengambil napas, tenggorokkannya terasa sakit menahan tangis. “Tapi ternyata setelah aku terima, setelah aku sadari aku emang aneh, ternyata ga semenakutkan yang aku kira.”

“Kamu ga aneh,” jawab Tomoe (masih dalam dandanan Tomoya, tapi bertingkah layaknya Tomoe) dengan suara bergetar. “Kalo kamu aneh pun, aku akan selalu ada di samping kamu. Kita hadapin semuanya bareng. Kamu bisa memperbaiki diri kamu jadi seperti dulu lagi,” kata Tomoe, akhirnya air matanya menetes.

“Jadi kamu bilang diri aku yang sekarang rusak?” ucap Atsushi, membuat Tomoe serba salah.

“Enggak, bukan gitu maksud aku..”

“Kamu nyebut kata ‘memperbaiki’. Berarti kamu pikir aku rusak dong. Aku aneh, ga pada semestinya, ga berfungsi dengan baik..”

“Bukan itu!!” jerit Tomoe. Air matanya bercucuran. “Bukan itu maksud aku.. Aku..”

“Tomoe,” kata Atsushi akhirnya dengan suara lebih lembut, “Jangankan bagus atau jelek, normalitas juga punya ukuran yang relatif. Cuma yang biasanya dipake orang itu tolak ukur umum. Kamu bilang gay itu ga normal, aneh.. aku, sekarang, bilang itu sah- sah aja. Aku udah ga bisa berubah jadi kaya dulu lagi, Tomoe. Fine, kalo orang bilang aku aneh, harus berubah, musti tobatlah. Tapi kalo aku ga mau, mo apa? Katakanlah gini, aku ini orang yang ‘tersesat’, aku juga udah tau dan seratus persen menyadari bahwa aku sedang tersesat, tapi kalo aku emang ga mau balik ke jalan yang di sebut orang ‘jalan yang bener’, mau apa?” cecar Atsushi.

“Iya. Dari tadi juga aku bukannya mau nyuruh kamu berubah. Aku cuma bilang gitu kalo kamu ngerasa pengen berubah. Ngerasa butuh berubah. Tapi kalo enggak ya udah, lupain aja kalimat yang tadi. Aku bisa bikin kalimat yang laen lagi. Intinya, aku dari dulu sampe sekarang tetep sayang sama kamu, Atsushi. Kalo kamu ga bisa atau bahkan ga mau berubah, biar aku yang berubah. Kalo kamu lebih suka aku sebagai laki- laki, lebih suka Tomoya daripada Tomoe, maka aku yang akan menyesuaikan. Aku akan berubah jadi apa pun yang kamu suka. Supaya aku bisa terus sama kamu,” Tomoe membalas debat Atsushi. Kini gadis itu menelungkupkan kedua tangannya di wajah, jatuh dalam tangisan.

“Tomoe,” Atsushi kemudian mendatangi dan memeluk Tomoe, “Maaf ya. Aku ga tau harus gimana lagi. Aku bingung harus berbuat apa sama diri aku sendiri. Aku sayang sama kamu, cuma kadang aku hanya ga suka.. entahlah. Aku sayang sama kamu. Aku ga pengen bikin kamu lebih sedih lagi. Aku pikir mendingan kita putus. Kamu bisa cari pengganti aku, aku juga jadi ga sedih lagi mikirin kamu yang punya cowo gay,” kata Atsushi sambil mengelus rambut Tomoe.

“Sedih itu bukan dosa. Biarin aku sama kamu, ya?”

Melihat keteguhan di mata Tomoe, Atsushi tak bisa bilang apa- apa lagi. Matanya itu terlihat tak memberi celah sedikit pun untuk bantahan, jadi Atsushi hanya memeluk Tomoe lebih erat sebagai jawaban.

Malam itu Atsushi tidak pulang, mereka cukup lama berpelukan di sofa dekat perapian di apartemen Tomoe, menumpahkan emosi masing- masing. Kemudian mereka mengobrol sampai jam dua pagi, sebelum akhirnya tertidur bersebelahan di sofa itu. Macam- macam yang ditanyakan Atsushi pada Tomoe waktu mereka mengobrol, termasuk sejak kapan gadis itu sadar ia gay. Rupanya Tomoe memperhatikan sikap Atsushi yang lebih ramah dan lebih hangat jika bersama dirinya yang sedang menjadi Tomoya, ketimbang saat bersamanya dalam wujud asli.

Paginya, Atsushi yang duluan terjaga dari tidur. Orang pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah Tomoya. Tentu bukan karena semata- mata Tomoe sudah bilang akan berubah dan ia jadi benar- benar berubah, tapi karena memang waktu tertidur mereka masih memakai seragam kerja, yang berarti Tomoe masih dalam sosok Tomoya. Atsushi yang tadinya masih ingin memandangi wajah Tomoya dengan berbagai pikiran bersliweran di kepalanya, tersadar jam sudah menunjukkan pukul setengah eman pagi. Ia langsung membangunkan Tomoya dengan rasa was- was. Atsushi tahu persis kebiasaan Tomoe. Gadis itu selalu bersiap- siap satu setengah jam sebelum pergi ke suatu tempat, atau minimal satu jam. Jika waktunya kurang sedikit saja, Tomoe akan senewen dan bahkan membatalkan semua rencananya hari itu. Sedangkan waktu yang mereka punya sekarang hanya sekitar dua puluh menit untuk bersiap- siap, karena jalan kaki ke tempat kerja memakan waktu kurang lebih sepuluh menit.

Tomoe, atau sekarang Tomoya, mengedip- ngedipkan matanya, berusaha mencerna situasi di sekitarnya. Hal pertama yang disadarinya adalah wajah Atsushi yang terlihat panik.

“Ada apa?” tanyanya setengah ngantuk.

“Em..udah jam setengah enam,” jawab Atsushi ragu- ragu.

“Hah?!” mata Tomoe membelalak, tapi kemudian ia membuat ekspresi wajahnya datar dan berkata, “Ya udah, ayo.” Kemudian ia turun dari sofa dan mulai mandi duluan. Hanya tiga menit.

Atsushi lumayan kaget dengan respon Tomoe yang begitu tenang. Di menit- menit berikutnya malah dia yang panik sampai tangannya gemetaran dan membuat segala hal jadi lebih sulit. Misalnya, saking gemetarnya tangan Atsushi, ia sampai kesulitan mengancingkan kemeja seragamnya, yang memang berkancing banyak. Jadi Tomoya terpaksa membantu sambil menenangkannya, “Kalem, kalem.. sini aku bantu. Telat juga kan ga dosa. Ntar aku aja yang jawab kalo ditanya macem- macem.” Dan tentu saja hal ini membuat Atsushi tercengang. Segala perubahan pada diri Tomoe begitu drastis.

Mulai dari bangun tidur sampai akhirnya sekarang mereka menginjak jalan, Tomoe terlihat begitu tenang dan begitu.. laki- laki. Di sela- sela obrolan mereka, Atsushi memperhatikan air muka Tomoe. Malah justru sekaranglah ia baru benar- benar sadar bahwa orang di sebelahnya itu adalah seorang gadis. Perempuan. Di perhatikannya gadis itu, yang tak lagi terlihat seperti seorang gadis. Tak ada beban yang tercermin dari wajahnya, tawanya begitu ringan, begitu renyah, begitu.. laki- laki. Atsushi jadi bimbang akan keputusannya sendiri, apakah ia benar- benar menginginkan ini? Bisakah ia membatalkan segala perubahan dalam diri Tomoe dan memintanya untuk melupakan semua ini, lalu menjalin hubungan yang seperti dulu lagi? Tidak, tentu tidak. Piring yang sudah retak, tak akan bisa menjadi utuh kembali.

“Eh, Tomoya, kamu yakin sama semua ini?” tanya Atsushi. Langkah gadis itu terhenti, ia menatap mata Atsushi. “Emang kamu ga keberatan harus hidup sebagai laki- laki?”

“Enggak,” jawab Tomoya sambil tersenyum tipis. Senyumnya yang baru. tak pernah Atsushi melihat pancaran ini dari sekian banyak senyum Tomoe padanya. Rupanya gadis itu sangat menjiwai perannya sebagai laki- laki.

“Enggak apanya nih?” tanya Atsushi lagi sambil mulai jalan. “Enggak keberatan atau enggak yakin sama semua ini?”

“Yiih!!” desis Tomoya lalu menonjok lengan Atsushi.

“Oh my God..” bisik Atsushi spontan, ia tak menyangka Tomoya akan merespon pertanyaannya seperti itu.

“Namaku Tomoya. Jangan pernah bicarain hal ini lagi, kecuali kalo sesuatu yang gawat terjadi. Oke?” ucap Tomoya mengkonfirmasi keraguan Atsushi, sekaligus menutup perundingan tentang hubungan mereka.

Sekarang malah tinggal Atsushi yang harus belajar menghilangkan kecanggungannya saat bersama Tomoya, yang awalnya tidak ada. Awalnya tidak ada kecanggungan, juga tidak ada Tomoya.



Desire VIII

Orang Yang Memotret Fotografer, Orang Yang Mengamati Sang Pengamat


Atsushi dan Tomoya berjalan memasuki pagar tinggi rumah Matsuya sambil bercanda, seluruh perjalanan mereka habiskan dengan tertawa. Tapi begitu berada selangkah di dalamnya, tawa mereka terhentikan oleh sesuatu yang mereka lihat: Matsuya berdiri di tengah- tengah taman, masih mengenakan piyamanya, bertelanjang kaki di atas rumput, kedua tangannya menggenggam sandal kamar. Ia berdiri tegak sambil menengadah ke atas, matanya tak terlihat seperti menerawang, seperti terfokus pada sesuatu, tapi juga sekaligus tak terfokus pada apa pun.

Di sekelilingnya ada beberapa pelayan yang terlihat khawatir; ada yang diam saja sambil meremas- remas ujung seragamnya, ada yang berusaha membujuk sang tuan muda menghentikan aksinya dan memakai kembali sandalnya.

Atsushi yang terbius dengan pemandangan itu disadarkan dengan senggolan kecil di sekitar sikunya. Tomoya.

“Ayo kita masuk. Lumayan dingin ya di sini,” katanya dengan senyum yang jelas terlihat dipaksakan.

“Oh, iya,” jawab Atsushi terbata.

Kemudian mereka pergi ke ruang loker dan meletakkan jaketnya. Belum sempat bicara apa- apa, Ken sudah menyerbu masuk dan menculik Tomoya.

“Tomo! Ayo ikut aku ke taman. Yang mulia tuan muda Azusagawa Matsuya bertingkah aneeeeh..”

“Kamu kali yang aneh. Mo sampe kapan kamu nyebut dia kaya gitu?” sahut Tomoya sambil pergi dari ruangan itu.

Atsushi memperhatikan sosok mereka berdua yang menjauh. Rasanya semakin jelas, Ken yang seperti ‘adik kecil’ dan Tomoya yang seperti ‘kakak laki- laki’.

Tak tahu akan apa yang dirasakannya setelah melihat itu semua, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tentu ia melakukan itu tanpa alasan yang khusus. Seperti kita pada umumnya yang suka melakukan gerakan- gerakan tanpa sebab saat sedang berpikir. Atsushi pun demikian, ia hanya sedang berpikir. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memulai pekerjaannya yang biasanya.

Waktu baru sampai ambang pintu dojo (biasanya ia bertugas membersihkan dojo), ia mendengar namanya digemakan oleh suara yang dikenalinya sebagai Kaminari. Ia menoleh dan mendapati Kaminari yang datang ke arahnya dengan wajah serius.

“Atsushi, kamu liat Ken atau Tomoya?”

“Oh, tadi...”

“Gimana ini, harusnya nganterin sarapan, malah ilang dua- duanya!”

“Em, mereka...”

“Pelayan yang laen juga! Pada ke mana sih orang- orang? Mereka itu cari- cari kesempatan nganggur dengan cara ikut- ikutan sibuk tentang Tuan Matsuya.”

“Itu...”

“Ya udah, kamu anterin sarapan buat nona Momiji ya. Saya sekarang mau ke taman,” cerocosnya tanpa menghiraukan Atsushi sedikit pun.

Atsushi terdiam di tempat dengan tatapan kosong. Apa sih yang tadi itu? Cepat datang, cepat pergi, dan bicara cepat sekali, lalu betapa cepatnya ia mendapatkan perintah pagi itu. Semoga hari ini cepat berahkir, batinnya.

Pria itu mengangkat bahunya, seperti ekspresi orang yang tidak tahu saat ditanya, lalu meletakkan semua peralatan bersih- bersihnya. Ia pergi ke dapur untuk mengambil sarapan Momiji.

Waktu menyerahkan sarapan itu, Momiji sedang duduk manis di ranjangnya, membaca novel sambil berselimut. “Oh, terimakasih. Kamu bukan yang biasanya, ya? Taro aja di meja sini,” katanya sama sekali tak menoleh.

Awalnya Atsushi mau langsung pergi setelah mengantar sarapan, tapi langkahnya terpaku di jarak sekitar dua meter dari ranjang wanita itu. “Ada apa, Hinagiku Atsushi?” tanyanya tanpa memalingkan mata dari novel di tangannya.

“Em, itu.. tuan Matsuya..” kata Atsushi salah tingkah.

“Matsuya,” balas Momiji.

Kenapa setiap menyebut Matsuya dengan kata ‘tuan’ di depannya pasti saja diprotes? batin Atsushi. “Oh, iya. Dia.. kenapa?”

Momiji membeku beberapa saat, baru kemudian menatap mata Atsushi, “Kamu peduli sama dia?”

“Oh bukan itu, saya...”

“Jadi ga peduli?”

“Hah?”

“Padahal dia peduli banget lo sama kamu.”

“Eh..”

Kemudian Momiji bercerita pada Atsushi mengapa adiknya bertingkah aneh: Dalam dua hari ini, ayah mereka akan tiba di rumah itu, padahal dari dulu Matsuya tak pernah suka, bahkan selalu membenci ayahnya. Mulai dari sifat, sikap, suara, tingkah, keputusan, pemikiran, pokoknya segala yang berhubungan dengan sang ayah. Si adik kecil selalu hidup dalam kemarahan, sampai suatu hari sang ayah harus bekerja di luar negeri sehingga ia pindah rumah. Pisah rumah dengan anak- anaknya. Matsuya berpisah dengan nerakanya.

Tingkah Matsuya yang menyusahkan beberapa hari lalu, seperti memberantakkan kamar, dikarenakan pada saat itu berita kepulangan sang ayah baru saja sampai di telinganya. Itu jugalah penyebab Matsuya bertingkah aneh pagi ini.

O ya, tentang rumah itu, yang membuat Matsuya masih bertahan di sana sampai detik ini, sedikit banyak karena Momiji. Bukan Momiji yang mengatakannya langsung pada Atsushi, tapi pelayan sambilan itu yang menyimpulkannya sendiri. Selama ini jika terjadi sesuatu pada Matsuya, pasti Momijilah yang paling tahu cara mengatasinya, termasuk saat Matsuya mengamuk. Tidak semata- mata hal ini adalah hal baik, karena entah mengapa Matsuya lebih seperti patuh pada Momiji ketimbang jika sikapnya selama ini disebut sebagai ‘rasa sayang’ atau ‘terima kasih’.

Wanita itu membuat Atsushi tak ingin berlama- lama seruangan dengannya, apalagi dengan pintu tertutup seperti sekarang. Maka Atsushi segera mengucapkan terima kasih karena Momiji telah menyempatkan waktu untuk mengobrol dengannya, kemudian ia langsung pergi, kalau tak ingin disebut kabur.

Ia menaruh baki di dapur sebelum membereskan dojo. Lalu sekarang sambil bekerja, kepalanya dipenuhi pemikirkan tentang Matsuya. Pertama, Atsushi mengingat cerita Momiji tentang masa lalunya. Lalu ia juga ingat setiap pertemuan mereka yang singkat, menegangkan, sekaligus.. membuatnya terpesona. Juga sosok tuan mudanya itu waktu dia memakai piyama.

Beberapa detik kemudian sesuatu terjadi. Atsushi tak dapat menyembunyikan matanya yang membelalak kaget saat bayang- bayang wajah Matsuya di benaknya tiba- tiba berubah menjadi dirinya yang asli. Ditambah lagi, dalam kostum piyama. Tentu saja, karena dari sejak ia datang pagi itu, Matsuya terus berdiri di tengah- tengah taman masih dengan memakai piyamanya.

“Houwaa!” pekik Atsushi tak beraturan. Matsuya sudah berada di depannya dalam jarak yang tak lebih dari dua puluh senti.

“Kamu sedang apa?” tanya pria itu dengan wajah datar.

“Eh, itu.. saya lagi bersih- bersih. Anda...”

Belum juga Atsushi selesai berbicara, tubuh Matsuya yang semula berdiri tegak di depannya seketika oleng dan ambruk. Ia jatuh ke arah depan, sehingga Atsushi langsung menangkapnya. Saat itu, ia baru menyadari kalau tubuh Matsuya basah kuyub termasuk rambutnya. Bibirnya juga begitu pucat.

Atsushi menjatuhkan mop di tangannya dan langsung membopong Matsuya ke kursi terdekat di ruangan itu. Ditepuknya pipi dan lengan pria itu beberapa kali, tak ada reaksi juga. Maka ia mencari bantuan ke seluruh rumah, yang tak dipercayanya bisa begitu kosong. Tak tahu lagi harus berbuat apa, ia mendatangi Momiji dan memberitahunya kondisi Matsuya.

“Bawa dia ke kamarnya. Aku tunggu di sana,” perintah Momiji.

Atsushi tergagap- gagap mendengar perintah itu. Ia harus naik satu lantai untuk mencapai kamar Matsuya, padahal tubuh laki- laki itu sedikit lebih besar dari tubuhnya sendiri, dan tak ada yang membantunya mengangkat. Momiji hanya menatap mata Atsushi lekat- lekat menjawab bunyi ‘ah.. emh..’ yang keluar dari mulutnya tanpa satu pun yang berhasil lahir menjadi sebuah kata. Dengan sorot mata yang kalau diterjemahkan berbunyi: ‘memang kamu mau suruh aku bantu angkat?’.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan pria malang itu kecuali menerima perintah wanita ‘mengerikan’ yang ia mintai tolong. Susah payah ia membawa Matsuya ke kamarnya, waktu sampai di sana pintu kamarnya masih tertutup. Jadi ia harus repot- repot dulu membukanya sendiri. Lalu hal pertama yang dilihatnya saat pintu terbuka adalah Momiji yang ternyata sudah ada di dalam sana, membaca novel, sambil berselimut di atas tempat tidur.

Atsushi jadi tak mengerti apa yang ada di dalam kepala wanita itu. Bisa- bisanya dia bertingkah begitu pada saat seperti ini.

Ia mendatangi Momiji. “Nona Momiji, ini...” kata Atsushi sambil melirik Matsuya.

“Masa’ mau kamu taro sini? Bajunya ‘kan basah. Tolong diganti ya. Bajunya ambil aja di lemari situ,” kata Momiji sambil menunjuk salah satu lemari, dengan mata yang tak meninggalkan novelnya sedikit pun.

Atsushi jadi serba salah. Matsuya yang berat di pelukannya membuatnya sulit bergerak. Bagaimana ia bisa mengambil baju dari tumpukan di lemari itu tanpa membuat yang lainnya basah? Tapi tanpa membantah, ia menggeret Matsuya ke dekat lemari. Dan saat membuka pintunya, sesuatu jatuh dari dalam sana, ke atas kaki Atsushi. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah beberapa lembar catatan kecil.

Anak tak bisa memilih siapa orang tuanya, begitu juga orang tua yang ga bisa milih siapa anaknya.

Ya, tentu saja.

Atsushi tak bermaksud lancang membacanya, itu hanya tak sengaja terbaca saat ia memungutnya. Saat ia pikir sudah semua, ternyata masih ada satu yang tertinggal.

Aku ingin kamu mengenalku. Sebenarnya aku sangat ingin kamu mendengarkanku. Tapi semua ini membuat jarak di antara kita. Berhentilah menjaga jarak dariku! Kumohon..

Kemudian ia meletakkannya bersama yang lain, lalu kembali ke tujuan utamanya membuka lemari itu: mengambil baju Matsuya. Setelah bersusah payah menahan Matsuya sambil berusaha mengambil salah satu baju tanpa membasahi yang lain, ia pergi ke kamar mandi.

Beberapa detik di dalam, ia langsung keluar lagi, mengunci sosok Momiji di matanya. Sebelah tangannya masih menahan Matsuya. Tak sedikit pun suara keluar dari mulutnya, ia perlu mengumpulkan keberanian walau hanya untuk memanggil nama wanita itu.

“Ya, Hinagiku Atsushi?” ucap wanita itu menanyakan keperluan Atsushi, yang sekaligus meruntuhkan keberanian yang sudah sedikit terhimpun dalam hatinya.

“Emh, tidak,” katanya lalu masuk lagi.

Sebenarnya apa yang membuat Atsushi begitu frustasi? Mengganti baju Matsuya. Seluruhnya basah, pasti sampai ke baju dalamnya. Dan bagaimana mungkin ia mengganti baju dalam Matsuya?

Sebagai pertolongan pertama, ia memasukkan Matsuya ke dalam bath tub yang sudah diisinya dengan air hangat, lengkap dengan piyamanya. Beberapa saat ia habiskan untuk mondar- mandir di sekeliling Matsuya, memikirkan apa yang akan dilakukannya. Ada beberapa pilihan yang singgah di kepalanya: 1. Mengganti baju Matsuya (itu berarti termasuk pakaian dalamnya). 2. Nekad memanggil Momiji dan memintanya mengganti baju Matsuya (dia ‘kan kakaknya), meski tak terbayang akan bagaimana akhirnya nanti. 3. Menyudahi semua ini dan mengundurkan diri sekarang juga.

“Kamu sedang apa?” tiba- tiba Matsuya bersuara.

Atsushi baru sadar betapa ia menunggu- nunggu suara itu dari tadi, karena begitu mendengarnya, seluruh beban terasa pergi entah ke mana dan ia serasa ingin melompat- lompat kegirangan saat itu juga.

“Yang mulia tuan muda Matsuya!!” pekiknya.

“Panggilan macam apa itu?”

“Eh, oh.. Ken sering menyebut anda begitu. Maaf saya kelepasan. Senang anda sudah sadar,” katanya.

Kemudian Matsuya memperhatikan dirinya sendiri, “Aku.. apa- apaan?”

“Oh, sebentar, saya ambilkan baju ganti anda,” kata Atsushi sambil berlari ke arah wastafel.

“Seandainya kamu bisa beneran becanda sama aku,” kata Matsuya lirih.

“Apa, Matsuya?”

“Enggak,” sahut Matsuya sambil tersenyum tipis. Setidaknya sekarang kamu panggil aku dengan namaku, batinnya.

Sambil menunggu Matsuya mandi dan ganti baju – tentu ia menunggunya di ruangan terpisah, Atsushi sempat menanyakan ke mana perginya pelayan- pelayan yang lain. Matsuya manjawab, sepertinya mereka semua sibuk mengurusi taman karena ia tadi sempat membuat kerusakan.

“Pasti ada yang sampe disuruh ke toko bunga segala. Beli pupuklah, bibitlah. Pak Kusamaru pasti marah. Wahahaa!”

“Anda sudah puas, Matsuya?”

“Hah?”

“Iya, beberapa hari ini anda keliatan ga tenang. Saya udah tau masalah ayah anda. Jujur aja saya khawatir ngeliat anda akhir- akhir ini.” Atsushi terdiam sesaat, Matsuya juga tidak mengatakan apa- apa. “Kalo ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk bikin perasaan anda lebih enak, bilang aja.”

Matsuya tak menjawab. Yang terdengar hanya suara air yang kembali dinyalakan. Tadi sempat ia matikan sejak Atsushi bertanya apakah ia sudah puas dengan segala tingkahnya.

Atsushi juga tak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya terus menunggu Matsuya di ruang kamar mandi yang kering, dengan maksud menjaganya. Takut- takut sesuatu terjadi padanya, mengingat tadi dia sempat pingsan.

Mendengar pernyataan Atsushi, Matsuya menangis di dalam bath tub. Karena ia sedang sendirian di balik tirai dan tak ada orang yang melihatnya, ia mengeluarkan air mata sepuas hatinya. Tanpa suara, hanya mengalir begitu saja. Menangisi keterharuannya akan ucapan Atsushi, menangisi kedatangan ayahnya.. Banyak emosi yang dia bebaskan saat itu.

Selesai mandi, ia berkata Atsushi bisa keluar dulu sebentar karena dia akan berpakaian. Waktu keluar dari bath tub dan mulai mengeringkan badan dengan handuk, ia merasa seakan ada paku yang menembus pelipisnya. Tentu saja, beberapa hari ke belakang ia hampir tak tidur sama sekali. Stress. Makannya juga kurang. Lalu pagi ini ia mengguyur dirinya sendiri menggunakan selang air yang ada di kebun dan tetap basah- basahan selama kurang lebih tiga per empat jam.

“Aku pasti masuk angin,” bisiknya, “O ya, dan satu lagi, kurang darah.”

Sambil mengancingkan sisa kancing bajunya yang masih terbuka, Matsuya keluar dari kamar mandi. Ia langsung disambut Atsushi yang dari tadi berdiri di depan pintu. Mata mereka bertemu, tapi entah kenapa tak ada satu pun yang punya sesuatu untuk dikatakan. Maka Matsuya memutus kontak mata itu dan mendatangi Momiji. Atsushi otomatis mengikutinya.

Waktu Matsuya semakin mendekat, tiba- tiba Momiji meletakkan novelnya, mengeluarkan kakinya dari selimut, sehingga ia duduk di pinggir ranjang. Saat Matsuya berada di jarak jangkauan tangan, ia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh pipi Matsuya. Matsuya hanya diam seperti menghormati sentuhan itu.

“Kamu kurang darah,” kata Momiji. “Naiklah,” katanya kemudian sambil menunjuk tempat tidur.

Dengan gerakan yang lambat Matsuya menaiki ranjangnya lalu berbaring.

Momiji menoleh pada Atsushi, “Maaf, tunggu di luar sebentar ya.”

“Oh, iya,” gagap Atsushi, langsung keluar.

Beberapa saat kemudian Momiji keluar dari kamar Matsuya, mukanya sedikit pucat. Ia memegangi leher bagian kanannya dengan sapu tangan. Rambutnya yang panjang sampai menutupi setengah punggungnya ia gerai ke depan sehingga menutupi daerah telinga.

“Nona?” sapa Atsushi yang bertanya- tanya dengan penampilan Momiji.

“Masuklah,” kata wanita itu, suaranya terdengar lemah. “Kalo bisa temenin dia sampe akhir jam kerja hari ini, ya,” katanya lagi lalu pergi.

Atsushi masih mengekor wanita itu dengan ujung matanya selama ia berjalan. Ia melihat jelas Momiji yang seperti sempoyongan tapi berusaha menegakkan langkahnya. Kemudian akhirnya wanita itu pun hilang ditelan belokan di rumah itu.

Atsushi menengok ke belakangnya dan melihat pintu kamar Matsuya yang terbuka. Ia segera masuk dan melihat Matsuya yang tertidur di ranjangnya. Wajahnya damai sekali. Tertidur di tengah ranjang dengan selimut yang sudah rapi menyelimutinya.

Ia memperhatikan wajah Matsuya, meraba setiap lekuk di wajah itu dengan matanya. Beberapa saat berlalu, ia pun teringat situasi yang mirip seperti ini, yang diakhiri dengan Matsuya tiba- tiba membuka matanya dan kekacauan setelahnya. Maka ia langsung menyudahi pengamatan itu dan bergegas menuju kamar mandi. Membereskan baju kotor Matsuya dan yang lainnya.

Waktu sedang bersih- bersih, ia menemukan baju ganti yang tadi baru saja dipakai Matsuya setelah mandi. Baju itu kelihatannya sengaja dibasahi. Atsushi mengerutkan keningnya. Tentu kita sudah tahu kira- kira apa yang dipikirkan Atsushi saat itu.

Tak mau ikut campur, ia menaruh baju itu di keranjang pakaian kotor tanpa bertanya apa- apa. Ia membawa keranjang itu keluar, akan diberikan pada bagian cuci. Begitu keluar dari kamar mandi, ia memandangi Matsuya beberapa saat sebelum akhirnya keluar dari kamar itu. Tepat saat menutup pintu, seseorang menepuk pundaknya. Atsushi terkejut dan kontan menoleh ke balik bahunya. Tomoya.

“Hei. Astaga, aku kaget.”

“Haha.. lagi ngapain?” goda Tomoya

“Aku mo naro ini ke bagian cuci. Lagian kamu ke mana aja si tadi? Orang- orang pada ke mana sih? Rumah sepi banget,” jelas Atsushi dengan gestur yang mengajak Tomoya ikut berjalan bersamanya.

Tomoya menemani Atsushi ke tempat cuci. Cerita Tomoya tak beda jauh dengan apa yang dikatakan Matsuya waktu di kamar mandi. Memang benar sebagian besar pelayan yang ada di luar di suruh Pak Kusamaru pergi ke toko bunga dan membeli berbagai barang. Sisanya ia alokasikan untuk membantunya menata kembali kebun. Sebagai tukang kebun, Pak Kusamaru sangat (atau terlalu) serius mengerjakan tugasnya.

Seusai menyetor pakaian dan handuk kotor ke bagian cuci, Atsushi mengambil satu handuk bersih milik Matsuya dan berencana kembali ke kamarnya. Namun tangannya dikait oleh Tomoya. Ia tak mengatakan apa pun, tapi Atsushi tahu pikirannya. Ia lalu meletakkan kembali handuk di tangannya kemudian memegang kepala Tomoya dan menyejajarkannya dengan wajahnya.

“Bentar yah. Kamu tenang aja. Aku ga akan ke mana- mana,” ucap Atsushi lalu mengecup kening Tomoya.

“Tomo?!” seru Ken kaget.

Ternyata secara kebetulan Ken datang ke ruangan yang sama dengan mereka. Ia melihat adegan Atsushi yang mengecup kening Tomoya. Otomatis mereka langsung berhenti bercengkrama.

“Tuh kan bener, kalian pacaran ya? Tomo ga pernah ngaku kalo ditanya! Gimana caranya kamu bisa dapet orang sekeren Atsushi?” kata Ken terus merengek.

“Em.. ehem.. aku pergi dulu yah,” kata Atsushi.

“Ya ampun Ken, kamu ngomong apa sih?” Tomoya menarik Ken pergi dari situ. “Kalo aku kasih tau rahasianya, kamu jangan bilang yang kamu liat ke siapa- siapa ya,” bujuk Tomoya.

Sementara itu kaget dan panik membuat emosi Atsushi melonjak- lonjak. Ia berjalan cepat sekali, setiap terbayang kejadian tadi, ia mempercepat jalannya hingga hampir berlari, bahkan ia juga melompat- lompat kecil. Ia benar- benar berusaha keras mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi, salah satunya dengan cara bergerak berlebihan dan komat- kamit. Dengan kecepatannya yang luar biasa itu, dalam sekejap ia sudah kembali ke depan kamar Matsuya. Napasnya terengah- engah. Ia meletakkan tangan di dadanya dan menarik napas panjang sebelum masuk.

Dilihatnya Matsuya sedang mengobrak- abrik tempat tidurnya. Mulai dari selimut, seprei, bantal, guling, sampai kasurnya ia tarik lepas dari kerangka tempat tidur dan dibuangnya ke lantai.

“Tu.. Matsuya!” seru Atsushi yang langsung menghambur ke arahnya. “Anda kanapa?”

Pertanyaannya itu dijawab dengan tolehan cepat penuh kemarahan di mata Matsuya, “Tutup pintunya,” katanya. Yang tak disangka- sangka disusul dengan olengnya pria itu dan jatuh ke tumpukkan selimut tebal di bawah kakinya.

“Matsuya!” pekik Atsushi, segera mendatangi dan berjongkok di sebelahnya. “Anda tidak apa- apa?”

“Berenti panggil ‘anda’! Kamu pikir kita bisa deket kalo kamu terus panggil aku kaya gitu?” bentak Matsuya.

“M.. Maaf.”

“Brengsek! Brengseeeek!!” jerit Matsuya. Matanya terlihat mulai berkaca- kaca. Ia memalingkan wajahnya membelakangi Atsushi.

Atsushi terpaku melihat semua pemandangan di depannya itu kini. Tingkah Matsuya yang seperti anak kecil, matanya yang berkaca- kaca.. semuanya begitu indah. Betapa ia tak sanggup menahan keindahan di depan matanya itu.

Beberapa menit berlalu, napas Matsuya mulai teratur. Ia bangkit berdiri agak sempoyongan dan meraih gelas di meja dekat tempat tidurnya kemudian diangkatnya gelas itu tinggi- tinggi. Melihat gelagat Matsuya yang akan membanting pecah gelas itu, tentu Atsushi menahan tangannya.

“Matsuya!” serunya.

Matsuya menangis. Kali ini ia tak sanggup lagi menahan air matanya jatuh.

“Khh..” desis Matsuya.

Matsuya tak lagi meronta dengan keras sehingga Atsushi bisa memperhatikan bulir- bulir air mata yang keluar dari kedua pelupuk mata di depannya, dan kemudian mengalir di pipi. Dilepaskannya genggaman pada tangan kiri Matsuya. Atsushi membebaskan satu tangannya untuk menyentuh air mata itu.

Matsuya membuang pandangannya jauh- jauh ke lantai. Mungkin ia malu terlihat lemah oleh Atsushi.

“Air mata kamu indah. Sosok kamu yang sedang nangis begitu indah,” ucap Atsushi yang langsung disanggah Matsuya dengan lirikan marahnya. “Tapi jangan nangis lagi, ya,” lanjut Atsushi sambil tersenyum lembut.

Matsuya menatap kedua mata Atsushi yang dengan tulus tersenyum padanya. Seiring dengan semakin sadarnya dia bahwa orang yang selama ini sangat ia inginkan untuk ada di sebelahnya, kini ada di depan mata. Tak kuasa menahan emosi, Matsuya kembali jatuh dalam tangisan.

Melihat sosok yang sangat rapuh di depannya itu, Atsushi mengambil gelas yang masih ada di tangan kanan Matsuya, meletakannya di meja, kemudian memeluk sang sosok rapuh.

Matsuya menyambut pelukan Atsushi. Kemudian mereka berpelukan selama beberapa menit. Selama itu Atsushi terus menepuk- nepuk punggung Matsuya, atau kadang mengelus rambutnya. Matsuya hanya diam sambil terus mendekap Atsushi dengan kuat. Atsushi merasa dekapan yang erat itu adalah jeritan minta tolong dari orang di pelukannya.

Napas Matsuya yang tersendat- sendat, seperti orang yang sedang menangis pada umumnya, akhirnya mulai tenang. Ia pun perlahan- lahan mengendorkan dekapannya, lalu melepas Atsushi darinya. Kemudian dia duduk di tumpukkan berbagai benda yang berserakan di sekitar kakinya. Atsushi hanya berdiri diam di sampingnya, tak tahu harus berbuat apa.

Tak lama kemudian diperhatikannya Matsuya yang celingukan melihat sekelilingnya.

“Anda mau saya membereskan lagi tempat tidur...” omongan Atsushi terpotong oleh Matsuya yang tiba- tiba meliriknya. Setelah berpikir beberapa saat, Atsushi akhirnya tahu maksud lirikan Matsuya, “Eh, iya, kamu mau saya beresin lagi tempat tidurnya?” katanya kemudian.

Seusai Atsushi berbicara, Matsuya kembali celingukan melihat sekelilingnya. Ia seperti belum menentukan pilihan, mau dibereskan atau tidak.

Atsushi tersenyum melihat orang di depannya itu. Ada kalanya laki- laki itu terlihat seperti orang yang demikian sulit di dekati, tapi saat ini, makhluk itu berubah menjadi seperti anak kecil. “Atau kamu mau sa.. aku beresin lagi tempat tidur kamu di lantai?” tawar Atsushi.

“Hah?” Matsuya kaget mendengar tawaran Atsushi. Belum pernah ada orang yang menawarinya hal semacam itu.

“Kamu duduk aja dulu di kursi. Biar aku beresin ini dulu,” kata Atsushi sambil mulai mengangkat selimut dan barang lainnya.

Tanpa bicara, Matsuya berdiri dari tempatnya duduk dan pergi ke kamar mandi. Dari bunyi yang ditimbulkannya, sepertinya ia cuci muka. Kemudian ia kembali lagi dan duduk di kursi yang tak jauh dari Atsushi. Sekitar sepuluh menit Atsushi sudah menyelesaikan tempat tidur Matsuya. Di lantai.

“Ini, udah selesai,” kata Atsushi sambil mundur satu langkah.

Matsuya menatap tempat tidur barunya dengan wajah tanpa ekspresi. Beberapa saat keheningan merebak di ruangan itu.

“Kamu.. apa- apaan?” geram Matsuya.

“Hah?”

“Kamu pikir aku anak kecil? Yang diturutin keinginannya terus seneng? Terus nurut? Hah? Apa maksud kamu sama semua ini?” cecarnya.

“Eh, bukan. Saya pikir kamu mau tempat tidur kamu jadi di bawah. Habis sama sekarang kamu udah dua kali mindahin semua barang di tempat tidur ke bawah,” jawab Atsushi. Setelah semua yang dialaminya tentang Matsuya, nada bicaranya terdengar lebih berani sekarang. Ia tak lagi menganggap Matsuya sebagai sesuatu yang tinggi.

“Kamu pikir gara- gara aku nangis di pelukan kamu tadi, terus sekarang kamu bisa perlakukan aku kaya anak- anak?”

“Enggak, bukan gitu..”

“Berenti bicara!” bentak Matsuya sambil mendatangi Atsushi.

Tak disangka, Matsuya mendorong jatuh Atsushi ke kasur yang baru saja dibereskannya di bawah, dengan posisi Matsuya menindih tubuhnya. Tak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulut Atsushi. Jantungnya berdebar begitu keras, selain takut karena Matsuya marah, ini juga adalah posisi yang bisa membuat jantung siapa pun berdebar kencang. Wajah Matsuya begitu dekat dengannya.

Matsuya menatap lekat- lekat mata Atsushi dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Pria di atasnya itu seperti melotot marah. Dari awal, Matsuya mendorong Atsushi dengan memegangi kedua lengannya. Jadi sekarang, posisi Atsushi benar- benar tak memungkinkannya bergerak.

Tiba- tiba Matsuya mendekatkan bibir dan mencium pelayannya itu. Atsushi sangat terkejut, napasnya mendadak sesak karena dadanya yang ditonjoki oleh jantungnya sendiri dari bagian dalam.

Beberapa saat berlalu, Matsuya mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Atsushi. Tak bisa lagi menahan sensasi yang dirasakannya, Atsushi mulai meronta. Ia mendorong bahu Matsuya dengan kedua tangannya, tapi cengkraman Matsuya begitu kuat sehingga ia tak bisa lepas. Atsushi pun menyerah dan membiarkan Matsuya menyelesaikannya. Begitu Matsuya melepaskan Atsushi, mereka berdua terengah- engah. Atsushi langsung menyeka mulutnya sendiri, mengeringkan air liur yang tersisa akibat ciuman tadi.

Keduanya masih berada di atas kasur setelah ciuman itu, mereka saling membelakangi selama beberapa waktu. Baru kemudian Matsuya membalik badannya, ia menarik lengan Atsushi untuk memastikan kondisinya.

“Kamu ga pa- pa? Sorry ya,” katanya lirih.

Atsushi masih memegangi bibirnya, ia terdiam. Bola matanya bergerak cepat, pertanda ada banyak hal yang sedang berputar- putar di dalam kepalanya saat itu.

“Kamu.. gila,” ucap Atsushi.

Matsuya terdiam mendengar dua kata yang dikatakan Atsushi. “Terus kenapa kamu ga pergi sekarang? Minimal kamu tonjok aku sekali kalo kamu bener- bener ga suka.”

Atsushi melumahkan tubuhnya, “Aku ga bilang ga suka.”

“Hah?” Matsuya membisu sesaat, lalu ia tertawa keras, “Ahahahaha! Kamu.. lucu juga ya. O ya, ngomong- ngomong aku suka loh tempat tidur aku diginiin. Selama ini ga pernah ada yang memperlakukan aku kaya gini. Makasih ya,” kata Matsuya.

Atsushi memiringkan badannya menghadap Matsuya, menatap matanya lekat- lekat. Ia berusaha mencari- cari penyebab lain lagi yang bisa melukai Matsuya. Mencari seberkas kesedihan atau mungkin kemarahan.

Kemudian Atsushi melempar pandangannya ke arah langit- langit, “Maaf selama ini aku bersikap dingin. Aku ga bisa begitu aja nerima perubahan gila di diri aku. Mulai sekarang aku akan selalu bersama kamu. Boleh?” kata Atsushi tanpa melihat mata Matsuya. Mungkin ia malu juga mengatakan hal ini secara blak- blakan.

Matsuya mendekati Atsushi dan memeluknya – mereka masih sambil berbaring, “Boleh.”

Waktu berpelukan, posisi Matsuya lebih rendah dari Atsushi, sehingga kepalanya berada di sekitar daerah dada Atsushi. Sambil mengelus rambutnya, Atsushi menanyakan tentang kertas yang dibacanya tadi.

“Kertas yang tadi jatoh, itu salah satunya ada yang ditujuin ke aku?”

“Hm? Kertas apa?”

Atsushi baru ingat kalau itu terjadi pada saat Matsuya pingsan. “Oh, kamu pingsan waktu itu. Ada di lemari baju kamu. ‘Aku ingin kamu mengenalku. Sebenarnya aku sangat ingin kamu mendengarkanku. Tapi semua ini membuat jarak di antara kita. Berhentilah menjaga jarak dariku! Kumohon..’ itu loh..” jawab Atsushi, membacakan kembali tulisan yang ia ingat dari kertas itu.

“Iya, itu maksudnya kamu,” jawab Matsuya singkat dengan suara lirih. “Yang tadi itu juga terjadi karena aku udah ga tahan lagi. Aku udah ga bisa nahan- nahan perasaan aku lagi. Aku suka kamu, Atsushi.”

“Terima kasih,” jawab Atsushi.

Mereka sama sekali tak beranjak dari kasur itu atau melepas pelukan mereka selama beberapa lama. Lalu waktu Atsushi mencoba melihat kondisi Matsuya, dilihatnya anak laki- laki itu tertidur di pelukannya. Jadi dia melepaskan pelukan Matsuya pelan sekali agar tak mengusik tidurnya. Mungkin karena salah satu bebannya sudah hilang, akhirnya setelah beberapa hari, Matsuya bisa tidur lagi.

Lelaki lelah itu baru bangun lagi sekitar jam empat sore. Begitu ia melek, matanya tak bisa berhenti bergerak mencari sosok Atsushi. Tidak ada. Atsushi tak bersamanya di kamar itu. Setelah yakin Atsushi tak dia sana, ia mengistirahatkan lagi otot- otot lehernya yang menegang akibat mencari bayangan dari orang yang tak ada.

Walaupun kamu bilang akan bersama aku terus, kenyataannya hal itu sulit kan? Kalo kamu sebenernya ga bisa juga ga pa- pa. Aku udah sangat berterimakasih dengan niat kamu, batin Matsuya.

Tak lebih dari sepuluh detik, pemikiran Matsuya itu sudah dibantah oleh semesta. Atsushi masuk dengan membawa baki di tangannya, yang dari jauh terlihat berisi sejumlah piring dan gelas. Seiring dengan Atsushi yang berjalan mendekat, Matsuya mengenali sesuatu yang ada di atas nampan.

“Sore,” sapa Atsushi saat masuk.

“Hai. Jam berapa sekarang?” tanya Matsuya.

“Jam empat.”

“Itu.. ada yang dari Momiji ya?” tanya Matsuya sambil melihat nampan di tangan Atsushi.

“Iya, kok kamu bisa tau?”

“Bwelh.. itu obat tau. Obat yang rasanya kayak neraka.”

Atsushi meletakan nampan itu di meja sambil memperhatikan sloki yang berisi cairan hitam pekat dari Momiji.

“Oh yah?” gumam Atsushi. Gumamannya ini membuat Matsuya menoleh, ia melihat sloki itu sudah berada di tangan Atsushi. Kemudian Atsushi berkata lagi, “Kalo gitu biar aku juga ngicipin neraka yang kamu rasain,” dan memasukkan seluruh isi sloki itu ke dalam mulutnya. Matsuya terbengong- bengong melihat tontonan di depannya.

“Kamu.. ngapain?!” serunya terkejut.

Sepertinya Atsushi kini mengetahui seperti apa rasa neraka itu, terlihat dari reaksinya: ia buru- buru meletakkan kembali sloki itu di atas nampan, dengan wajah panik, dan mata membelalak. Tapi kemudian ia menarik napas panjang dan merubah raut wajahnya. Kini ia menunjukan wajah yang begitu tenang, bahkan tersenyum tipis. Didatanginya Matsuya yang masih melongo melihat aksinya. Pria yang masih dalam posisi tiduran tapi siaga itu dipegang kepalanya, lalu Atsushi meminumkan cairan yang kini ada di mulutnya itu ke mulut Matsuya.

“Emh..?” Matsuya agak kaget dengan perlakuan Atsushi yang tiba- tiba.

Setelah meminum sang ‘neraka’ sedikit demi sedikit dari mulut Atsushi sampai habis, mereka melanjutkannya dengan berciuman. Beberapa menit dihabiskan dua orang itu untuk menyelesaikan semuanya.

“Kayaknya sekarang aku suka.. neraka,” kata Matsuya beberapa saat setelahnya.

“Iiyh.. kayanya lidah aku mati rasa.. ga enak banget. Mana tadi ada yang keminum dikit.. brr..” paparnya.

“Hmm? Keminum? Hahahaha.. dibilangin neraka, malah diicipin,” Matsuya menertawainya. “Tapi makasih, yah.”

Atsushi membalas ucapan Matsuya dengan senyum. Ia berdiri dan mengambil nampan yang berisi susu dan camilan (yang sebenarnya setara dengan sarapan dan makan siang, disiapkan khusus oleh bagian dapur karena Matsuya belum makan apa- apa hari itu). Ditaruhnya nampan itu di depan Matsuya yang duduk di tepian tempat tidur, lalu ia sendiri duduk di lantai di depan Matsuya.

“Oh iya yah.. aku laper juga,” kata Matsuya sambil mencomot makanan di atas nampan. Ia juga menawari Atsushi untuk mengambil makanan yang ada di situ.

“Enggak ah.. lidah aku rasanya ga enak,” Atsushi menolaknya halus.

“Oh gitu? Enegnya bisa ilang loh kalo pake susu. Aku udah ngalamin ini beberapa kali. Sini,” kata Matsuya sambil memberi tempat di sebelahnya. Pria itu memasukkan sejumlah susu ke rongga mulutnya.

Mengerti maksud Matsuya, Atsushi pun mendatangi dan duduk di sebelahnya. Seperti yang tadi dilakukannya, Matsuya ganti memberinya minum menggunakan mulutnya.

“Walau kamu ngasih aku neraka, aku membawakan kamu surga,” ucap Matsuya.

“PD banget nyebut surga. Kamu yakin yang tadi itu seenak itu sampe bisa disebut surga?” goda Atsushi.

“Oh, kamu nantangin?”

Mereka berdua menghabiskan waktu yang menyenangkan saat itu. Dan seperti yang kita semua tahu, waktu yang menyenangkan cepat berlalu. Begitu tersadar, jam sudah menunjukkan pukul enam sore, sudah lewat satu jam dari jam kerja wajib, maka Atsushi pamit pulang pada Matsuya.



Desire IX

No matter what, we’re still heading for our hollyday!


Waktu membalik badan selepas menutup pintu kamar Matsuya dengan perlahan dan mengucapkan selamat malam, Atsushi begitu terkejut mendapati Tomoya yang sudah ada di belakangnya. Sepertinya gadis itu sudah menunggu di sana dari tadi. Perasaan Atsushi menjadi tidak karuan saat itu. Seperti anak kecil yang kepergok saat berbohong, ia berusaha keras mencari kata- kata untuk diucapkan. Yang waktu sudah terucap nanti malah meyakinkan lawan bicaranya bahwa ia memang berbohong. Belum ia menemukan kata- kata itu, Tomoya yang seperti mengerti kondisinya: anak kecil yang kepergok, langsung mengajaknya pulang.

“Kita pulang yuk. Udah lewat satu jam dari shift,” katanya sambil tak menatap Atsushi.

Ia lalu berjalan pergi dari sana. Atsushi tadinya sangat ingin membalas omongan Tomoya, tapi ia tak punya segenggam kekuatan untuk melakukannya. Maka ia hanya berjalan mengikuti Tomoya dengan membisu.

Sesampainya di ruang loker, Tomoya mengingatkan Atsushi bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka bekerja di sana, “Inget? Dua hari lagi liburan kita. Ini hari terakhir kita kerja di sini.”

Tak satu pun kata terdengar dari mulut Atsushi, tapi gerakkan kepalanya yang cepat menoleh ke arah Tomoya dan matanya yang membelalak mengungkapkan segala isi kepalanya. Ia lupa. Dan setelah ingat, ia benci kenyataan yang telah berhasil diingatnya itu. Tomoya merasa sangat sedih mendapati respon Atsushi yang ditangkapnya dari sudut mata. Ia terus menunduk membereskan tasnya, menghindari kontak mata dengan Atsushi.

Melihat bahasa tubuh Tomoya yang tak mau melihatnya, Atsushi tahu kekasihnya itu tak mau mendengar suatu bantahan apa pun. Maka ia menelan kembali ucapannya yang bahkan belum keluar.

“Waktu nunggu kamu tadi, aku udah ngobrol sama Kaminari. Ternyata dia inget tentang perjanjian kerja kita. Jadi besok, kita ga perlu dateng ke sini lagi,” kata Tomoya.

Setelah itu selama perjalanan pulang mereka sama sekali tak bicara apa- apa. Seperti biasa Atsushi mengantar Tomoya ke apartmentnya dulu baru kemudian pulang ke rumahnya sendiri. Waktu berpisah di depan pintu pun ia hanya mengucapkan selamat malam dan langsung pergi.

Di balik pintu, Tomoya langsung menangis. Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan Tomoe yang menangis. Segala hal telah dilakukannya untuk membuat Atsushi tetap di sampingnya. Tapi sepertinya ini tak akan berhasil. Ia tahu hari ini Atsushi dan Matsuya bersama- sama lama sekali. Tomoe tak tahu apa yang mereka lakukan. Tapi perasaannya ini bukan sekedar prasangka atau pun tuduhan semata. Ia tahu telah terjadi sesuatu.

Waktu itu di tengah- tengah tangisannya ia jatuh tertidur, dan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di depan pintu dalam posisi telungkup.

Sedangkan Atsushi sendiri baru benar- benar tiba di rumahnya sekitar jam sepuluh malam. Ia melangkah ke mana pun kakinya mengarahkannya. Ia bahkan sempat melewati rumahnya beberapa kali. Kadang ia duduk di suatu tempat beberapa saat. Kemudian ia dihinggapi suatu pemikiran yang membangkitkan hantaman emosi di dadanya, maka ia akan berdiri dari tempatnya dan berjalan kembali. Hal ini terus berulang sampai hatinya cukup tenang dan ia memutuskan untuk pulang.

Begitu membuka pintu dan menutupnya kembali, entah pikirannya sudah tenang atau memang kosong. Wajahnya tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong. Menurutmu, mana yang benar: pikiran yang sudah tenang.. atau kosong? Mungkin ia tak berhasil membuat dirinya tenang, tak berhasil menemukan titik terang di sana, maka tanpa sadar ia mengosongkan pikirannya. Daripada memancing masalah dengan pemikirannya, lebih baik tidak berpikir.

Paginya, tanpa satu pun yang membuat janji, Atsushi menjemput Tomoya – yang juga entah kenapa sudah siap – untuk berbelanja keperluan untuk erlibur nanti. Sepertinya mereka berdua berhasil mengosongkan pikiran mereka masing- masing. Buktinya, hari ini dimulai dengan begitu sempurna. Atsushi datang dan menyapa hangat Tomoya, begitu juga Tomoya yang menyambutnya hangat.

“Haloooow.. udah siap?” sapa Atsushi dengan senyum yang tekembang lebar.

“Udah. Kamu udah sarapan?” tanya Tomoya, tak lupa dengan senyum.

“Uhm..” gumam Atsushi sambil menyentuh bibirnya yang manyun dengan satu jari, wajah merengut, tatapan mata lurus ke meja makan.

“Haha, makan bareng yuk,” ajak Tomoya.

Jangan lupa ya, yang ada bersama Atsushi saat ini adalah ‘Tomoya’, bukan ‘Tomoe’. Entah ke mana perginya gadis itu sekarang. Mungkin ia sedang tertidur.. atau sedang menangis.. jauh di dalam Tomoya.

Setelah sarapan, mereka berdua meninggalkan rumah Tomoya dan pergi ke mana pun untuk mendapatkan barang yang mereka cari. Setiap detiknya mereka lewati dengan cada tawa.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh waktu mereka tiba di tempat Tomoya. Semua barang belanjaan ditinggal di sana, lalu mereka pergi lagi untuk makan malam di luar. Hari itu begitu sempurna. Begitu sempurna saat mereka berhenti berpikir dan membungkam perasaan mereka sendiri.

Menurutmu mana yang lebih baik? Pertentangan dan masalah yang timbul sebagai akibat dari manusia yang berpikir dan merasa atau kedamaian yang tercipta saat manusia berhenti berpikir, melepaskan segala hasratnya, dan mengikuti semua peraturan dan keinginan manusia lain demi kedamaian itu sendiri?

Kenyataan yang terjadi hari ini adalah manusia masih berpikir dan merasa, sehingga banyak masalah yang bermunculan seperti sekarang.

Esoknya, seperti yang sudah direncanakan, Atsushi menjemput Tomoya pada pukul delapan sekalian membantunya berkemas di sana. Jam sepuluh tepat mereka berangkat.

“Ga ada yang ketinggalan ‘kan?” cek Atsushi.

“Enggak.”

“Yakin?” tanya Atsushi dengan nada menyelidik.

“Iya,” jawab Tomoya singkat. Tapi ia merasa Atsushi masih memperhatikan wajahnya, maka ia menoleh dan mendapati Atsushi yang menatapnya penuh selidik. “Yih, kamu ngapain sih?” tanyanya sambil menonjok kecil lengan Atsushi.

“Enggak, biasanya kamu ‘kan jadi BT berat kalo ada satu barang aja yang ketinggalan. Walau pun barangnya ga penting,” jelas Atsushi.

“Iiih.. emangnya barang apaan? Lagian apanya yang ga penting?!”

“Haha..waktu itu kan gitu.. kamu..”

“Apa? Apa?”

Mereka berdebat. Memperdebatkan hal- hal yang sama sekali tidak penting, sama seperti dulu. Hal yang sudah lama dinanti Tomoya. Ia rindu saat- saat seperti ini.

Mereka pergi ke menggunakan bus. Setibanya di pantai, hari sudah siang.

“Eh, berenang yuk,” ajak Atsushi.

“Eh.. Aku..”

“Kenapa? Kamu bisa berenang ‘kan?”

“Iya.. tapi, itu..” Tomoya menggumam- gumam tidak jelas.

Sekitar dua detik kemudian Atsushi berhasil melihat isi kepala Tomoya: dia ‘kan perempuan, bagaimana pun juga. Tentu saja penggunaan baju renang merupakan masalah tersendiri baginya.

“Oh iya!” seru Atsushi tiba- tiba, langsung menyerbu tasnya. “Aku udah beli loh, baju renang buat kamu. Nih,” katanya sambil menunjukkan satu set bikini.

Tomoya - atau kali ini, Tomoe – merasa malu Atsushi mengacung- acungkan bikini seperti itu, maka ia pun menyambarnya dari tangan Atsushi, “Kamu ngapain sih?!”

“Eh, terus berarti aku..”

“Iya. Ga pa- pa,” Atsushi menjawab semua tanda tanya di wajah Tomoya. “Aku tunggu di luar ya.”

Di dalam kamar penginapan, Tomoe terdiam beberapa saat dengan mata menerawang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Memakai bikini pemberian Atsushi dan kembali menjadi Tomoe beberapa saat, atau bersikeras dengan janjinya dan tetap menjadi Tomoya?

Di saat yang bersamaan Atsushi juga bertingkah sama seperti Tomoe: menyandar di pintu, mata menatap ke sembarang arah dengan tatapan menerawang. Hanya bedanya, dia tak sedang memikirkan baju renang apa yang akan dipakainya. Dia sedang memikirkan perasaannya. Semakin lama ia bersama Tomoe ia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Semakin besar pengorbanan Tomoe untuknya, semakin ia ingin lari karena perasaan bersalah.

Akhirnya lamunan itu diinterupsi oleh bergeraknya daun pintu yang disenderinya. Tomoe. Tomoe dalam balutan baju renang wanita. Tak disangka- sangka, dalam hati Atsushi sempat terucap kata ‘Wow..’ yang kemudian membungkamnya beberapa saat.

Tomoe yang sejak awal sudah kikuk menjadi tambah kikuk dengan sikap Atsushi yang hanya terdiam memandanginya. Maka masih dengan gaya Tomoya, ia menonjok kecil bahu Atsushi, “Ga usah liat- liat!”

Atsushi jadi teringat bahwa pemuda yang berada di sampingnya selama ini adalah gadis manis yang rela mengorbankan identitas bagi dirinya.

“Eh, enggak.. itu, kamu.. cantik,” sahut Atsushi.

Tomoe hanya terdiam menatap lantai, wajahnya memerah. Atsushi kemudian menggandeng tangannya dan menariknya ke pantai. Setelah bermain sampai sore, mereka kembali ke penginapan dan mandi. Setelah itu mereka kembali ke arah pantai iuntuk makan malam. Di sana Atsushi sempat membuka pembicaraan serius dengan Tomoe. Ia mengakui dirinya sudah salah. Ia juga bilang bahwa kali ini adalah gilirannya yang berkorban dan berusaha. Pria itu meminta Tomoe untuk kembali menjadi dirinya yang dulu. Perempuan. Biar kali ini dia yang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan.

Mata Tomoe berkaca- kaca mendengar semua ucapan Atsushi. Ia yang semula menunduk sempat mengangkat wajahnya dan menatap Atsushi, menggerakkan mulutnya seperti mau bicara tapi tak terdengar satu kata pun dari sana. Ia pun kembali menunduk sambil membuang napas kencang. Atsushi yang seperti menangkap gelagat Tomoe langsung pindah ke sebelah gadis itu dan memeluknya dari arah samping. Merasa jeritan hatinya untuk memluk kekasihnya itu dijawab, Tomoe memeluk balik Atsushi dengan sekuat tenaga. Tapi karena mereka sendiri sadar betul itu tempat umum, tak lama kemudian kehangatan itu pun diakhiri.

Sejak saat itu hari- hari mereka yang menyenangkan pun dimulai. Awalnya Tomoe sempat bingung juga karena hampir semua baju yang dibawanya adaah potongan untuk laki- laki. Tapi entah bagaimana ia berhasil memodifikasinya hingga cocok dipakainya walau berdandan sebagai perempuan.

Selama kurang lebih empat hari setelah makan malam itu, mereka berdua sangat legnket satu sama lain. Hampir semua hal mereka lakukan bersama, kecuali mandi tentunya. Misalnya mencuci, bermain, jalan- jalan, membeli kudapan, semuanya selalu dilakukan berdua.



Desire X

Fake Heaven


Suatu pagi terhitung lima hari dari makan malam bersejarah itu, Atsushi bangun tidur dengan sangat tidak mengenakkan: ia bangun seperti terkejut; ada air mata yang mengalir di mata dan pipinya. Sembari menyeka air mata itu ia mengingat- ingat mimpinya yang membuat perasaannya menjadi begitu redup. Ada yang memanggil namanya. Menginginkan kehadirannya. Siapa? Atsushi belum bisa mengingat wajah yang memanggilnya itu dengan jelas. Orang itu menangis, seperti anak kecil. Atsushi ingin sekali memeluknya dan ikut menangis bersamanya. Siapa? Seorang anak yang membuatnya ingin mengabdi pada sosok kecil itu.

“Hai! Udah bangun? Sarapan yuk,” ajak Tomoe. “Eh, kamu kenapa?” tanyanya lagi melihat Atsushi berair mata.

Sambil menghapus sisa air matanya, Atsushi hanya memberi Tomoe wajah datar, sorot mata kosong, dan senyum hambar, juga kata- kata, “Ga pa- pa.” Kemudian turun dari tempat tidurnya dan mengikuti Tomoe untuk sarapan.

Setelah itu mereka berjalan- jalan di pantai, kegiatan rutin mereka selama liburan di sini. Tomoe bersemangat seperti biasanya, tapi Atsushi tak bisa fokus untuk menyahuti semua ocehan Tomoe, bahkan pada langkahnya sendiri. Sering kali kakinya terantuk batu. Dan pada sandungan yang kesekian kali, ia bisa mengetahui dengan jelas siapa anak di mimpinya itu. Matsuya!

Matanya membelalak seketika, tiba- tiba ia lupa akan rasa sakit di jempol kakinya. Omelan kekhawatiran Tomoe di sebelahnya tak lagi terdengar.

O iya, gimana kondisi anak itu ya? Katanya ayahnya mau dateng. Kayanya dia benci ayahnya. Apa dia ga pa- pa ya? Pas dia lagi susah aku malah ga ada.. batin Atsushi.

“..shi! Atsushi!” seru Tomoe yang kini sedang memandanginya dengan wajah cemas.

“H..hah?”

“Kamu kenapa sih?”

“Hah?”

“Kamu kena..”

“O iya!! Tomoe, maaf aku harus pergi. Maaf sekali,” kata Atsushi buru- buru kemudian mengecup kening Tomoe dan mulai berlari.

Melihat punggung itu menjauh, Tomoe tahu kali ini pria itu benar- benar lepas dari genggamannya. Tak akan pernah kembali lagi dan tak akan pernah bisa ditangkap lagi. Akhirnya gadis malang itu pun tak pergi ke mana- mana. Ia berdiri di tempatnya sambil celingukan. Begitu menemukan yang dicarinya, ia langsung mendatangi benda itu. Bangku di pinggiran pantai.

Tiga belas menit duduk di sana, sesosok manusia duduk di sebelahnya, kontan gadis itu menoleh. Seorang pria muda yang rupawan. Penampilannya sama sekali tak mencerminkan tempatnya berada sekarang: ia memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana panjang kain hitam.

“Kamu mau ikut aku?” adalah ucapan pertama pria itu pada Tomoe.

“Hah?”

Sementara itu Atsushi masih terus berlari, entah sampai mana dan sampai kapan. Seakan ia kehilangan akal sehatnya dan hanya terus berlari dengan memikirkan anak kecil yang menangis dalam mimpinya itu. Matsuya. Seperti orang bodoh yang tak tahu bahwa jarak yang akan ditempuhnya sama sekali tak mungkin jika ditempuh dengan berlari. Tak lagi dihiraukannya peluh yang bercucuran bagai hujan di seluruh tubuhnya.

Untung semesta berbaik hati dan mengirimkan belas kasihan untuknya. Sebuah mobil sport tiba- tiba memblok larinya. Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita yang kemudian melemparkan handuk sebesar handuk mandi padanya. Momiji!

“Pake anduk itu, ntar kamu masuk angin. Terus masuk mobil, kita pulang,” katanya langsung duduk lagi di balik kemudi.

Atsushi tak sanggup menjawab apa pun karena napas yang ngos- ngosan tak mengizinkannya bicara. Ia menuruti ucapan Momiji dan duduk di bangku sebelah wanita itu.

“Kamu pikir bisa ke sana pake lari doang?” tanya wanita itu terus melihat jalan.

“Hah? Emm..” Atsushi bingung mau menjawab apa. Pikirannya memang kosong tadi. Yang ia tahu hanya ingin segera berada di samping Matsuya. Makanya ia malu kalau mengakui kebenaran ucapan Momiji.

“Sorry aku telat. Kamu keburu basah gitu. Tapi karena aku sadar aku telat juga makanya aku udah inisiatif bawa anduk. Haha!” kata wanita itu sambil mengacungkan jempol kanannya ke depan wajah Atsushi.

Baru pertama kali Atsushi melihat kelakuan yang seperti itu. Ternyata Momiji juga hanya seorang gadis biasa. Lalu ia menunduk dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Waktu itu ia baru menyadari warna handuk di tangannya: abu- abu.

“Ini.. handuk Matsuya?” tanyanya.

“Dia ga pernah mau barangnya disentuh orang laen. Tapi kalo kamu, kayanya ga pa- pa.”

“Oh iya, tau dari mana saya ada di sini? Terus, apa Anda udah tau dari awal timing saya akan mulai lari? Em, bahkan, apa Anda udah tau kalo saya bakal lari?” tanya Atsushi dengan wajah penuh pertanyaan.

“Iya. Aku tau dari awal kalo kamu bakal balik ke adikku. Cuma masalah kamu lari ini, aku baru tau sekitar sejam yang lalu, makanya telat,” jawab wanita itu berwajah ogah- ogahan.

Menangkap signal ‘ogah- ogahan’ dari Momiji, Atsushi kemudian memutuskan untuk diam dan berhenti mengganggunya mengemudi. Empat puluh empat menit berlalu sejak saat itu, kini mereka hampir tiba di kediaman Azuzagawa.

Sebelum masuk pagar, Momiji sempat berpesan pada Atsushi: “Kamu yakin mau masuk rumah ini lagi? Kamu harus terima resikonya sampe akhir loh. Sekali masuk ga akan bisa ‘keluar’ lagi.”

“Matsuya butuh saya. Kalo dia panggil saya, saya harus datang,” jawab Atsushi yakin.

“Semangat yang bagus.”

Begitu sampai di dalam, rumah itu terasa begitu sepi, tak seperti ketika ia masih bekerja di sana. Jumlah pelayan pun sepertinya berkurang. Hanya para pelayan tetap saja yang terlihat dari tadi. Dan lagi kalau diperhatikan, mereka semua berwajah serius – kalau tak mau disebut tegang.

Atsushi mengikuti Momiji entah menuju ke bagian mana dari rumah besar itu. Dan waktu tiba di depan sebuah pintu, Momiji menggenggam handlenya cukup lama, ia memikirkan sesuatu. Kemudian dibukanya pintu itu dan berkata, “Masuklah,” pada Atsushi.

Dengan ragu- ragu ia menginjakkan kakinya selangkah memasuki ruangan di balik pintu itu. Gelap. Atsushi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ternyata perabotannya serba kayu. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa batang lilin yang ditempatkan di sudut- sudut ruangan. Ada sebuah meja kayu bundar di depannya, dua buah kursi yang juga dari kayu, lalu ada juga perapian yang menyala di sebelah meja itu. Baru kemudian dirasakannya: ruangan itu dingin. Beberapa saat berikutnya, di balik lemari yang berdiri tepat di sebelah pintu – sehingga menghalangi pandangannya – Atsushi melihat ada sebuah ranjang berkelambu di bagian dalam ruangan. Ia memicingkan mata dan menangkap sesosok manusia di sana.

Ragu- ragu dengan apa yang ada di depan matanya, Atsushi menoleh cepat ke balik punggungnya. Momiji menganggukkan kepala, meyakinkan Atsushi untuk menghampiri sang sosok. Waktu berlari ke arah sosok itu, dadanya terasa sesak, tenggorokannya sakit. Begitu sadar ia sudah menghadapi Matsuya yang sedang terbaring di sana.

Atsushi menutup mulutnya sendiri, tak percaya pada pemandangan yang didapatinya di sana. Terdengar suara Momiji yang mengatakan: “Kutinggal, ya,” namun tak mendapat sahutan, disusul bunyi ‘cklek’ pada saat pintu ditutup.

Atsushi merasa lututnya lemas, ia tersungkur di samping ranjang itu. Air mata tak tertahan lagi dan jatuh mengaliri pipinya, tak peduli sesakit apa pun tenggorokannya sudah menahan tangis, tangis itu tetap terjadi.

Di tengah tangisannya itu, sebuah tangan yang lemah menyentuh kepalanya, “Jangan nangis,” kata suara menyertai sang tangan.

Atsushi buru- buru mengambil tangan itu dan mendongak. Dilihatnya wajah Matsuya yang berantakan di depannya. Senyumnya terasa penuh derita. Banyak luka di wajahnya. Kalau dia tidak habis berkelahi, berarti dia habis disiksa. Atsushi menggenggam erat tangan itu, tangan yang dirantai itu. Kedua tangan dan kaki Matsuya ditantai ke rangka tempat tidur. Pada bagian pergelangan tangan dan kakinya yang diborgol ada balutan perban yang dihiasi bercak darah. Atsushi mengelusinya satu per satu.

“Atsushi,” kata Matsuya sambil berusaha duduk, tapi belenggu di tubuhnya membuat gerakannya sangat terbatas. Bunyi ‘cring, cring..’ yang ditimbulkan rantai setiap kali Matsuya bergerak mengiris hati Atsushi. Ia pun memeluk Matsuya dari belakang lalu menangis sejadi- jadinya di punggung itu.

“Dasar. Diliat dari kondisi, seharusnya ‘kan aku yang nangis,” kata Matsuya sambil menyentuh kepala Atsushi yang bersandar di pundaknya dengan kepalanya sendiri.

“Maaf.. maaf,” kata Atsushi terbata. “Aku malah pergi waktu kamu butuh,” lanjutnya.

Matsuya terdiam. Tenggorokan yang mulai sakit memberitahunya bahwa ia hampir menangis. “Ga pa- pa. Kamu boleh pergi kapan pun kamu mau. Terus kalo kamu ga tau harus ke mana lagi, aku akan selalu ada untuk tempat kamu pulang,” ucapnya sungguh- sungguh. Air mata mulai menggenangi matanya. “Udahlah, Atsushi. Jangan nangis lagi. Kamu bikin aku jadi lemah. Hati aku yang udah susah- susah aku buat keras bisa runtuh sendiri kalo aku nangis. Udah, ya?” bujuknya.

Atsushi memaksa diri melapaskan tubuh penuh luka itu dari dekapannya, “Maaf,” katanya sambil menjauhi ranjang. Ia mengambil salah satu bangku kayu yang dilihatnya tadi saat masuk.

“Sebenernya ada apa sih?” tanya Atsushi setelah meletakkan bangku itu di samping ranjang. Matsuya sudah kembali pada posisi berbaring.

Matsuya memandanginya dengan sorot mata yang bertanya: “Kamu yakin sama yang kamu tanyain?”

Atsushi menantangnya balik dengan sorot mata anak- anak yang tak mau tahu apa pun dan hanya menginginkan permintaannya dituruti orang dewasa.

Matsuya kalah adu tekad. Ia memalingkan wajahnya kemudian berkata, “Nanti kalo aku cerita, kamu jadi terikat sama aku lo.”

“Dari awal kita emang udah terikat ‘kan? Sama benang yang ga keliatan. Dan benang itu yang bawa aku sampe ke sini sekarang. Aku pengen berguna buat kamu, Matsuya. Aku dateng ke sini karena kamu yang manggil aku.”

“Makasih,” jawabnya lirih.

Setelah itu Matsuya mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Waktu ‘orang itu’ datang (Matsuya menyebut ayahnya dengan kata ‘orang itu’), mereka makan siang bersama, termasuk Momiji. Semuanya baik- baik saja sampai si ayah membicarakan kelakuan kacau Matsuya akhir- akhir ini, yang dilaporkan oleh seorang pelayan padanya. Lalu ia pun melanjutkan ucapannya dengan mulai menasehati Matsuya, yang tentu saja malah memancing emosi anak itu. Matsuya yang masih menghormati Momiji di meja makan itu berusaha menahan diri dan hanya menyudahi makannya saja tanpa berkonfrontasi dengan si ayah. Karena sebelumnya Momiji sudah memperingatinya, “Jangan mengacau.”

Si ayah bukannya berhenti malah mengomentari sikap Matsuya yang meninggalkan meja makan, “Mau ke mana kamu? Sikap macam apa itu? Kamu bahkan ga menghormati ayah sama sekali. Kamu harus mulai merubah sikap kamu, Matsuya. Kamu ‘kan bukan anak kecil lagi,” kata si ayah sambil terus menggeluti isi gelas di depannya, tak melirik Matsuya sedikit pun.

Si anak yang malang berada pada puncak emosinya. Ia mendatangi si ayah dan menarik kerah bajunya, “Apa? Ngomong apa kamu tadi? Aku sama sekali ga denger. Bisa diulang?” katanya dengan mata liar.

“Ya ampun Matsuya.. tuh liat ‘kan. Kelakuan kamu jelek sekali. Kalo kamu minta maaf sekarang, mungkin masih ayah maafkan,” kata pria itu sambil terus minum.

“Hah? Apa? Aku lebih ga denger lagi dari yang tadi!! Apanya yang ‘ayah’? Kamu bukan ayahku!! Dasar brengsek!” bentak Matsuya.

“Jaga kelakuan kamu! Kamu pikir kamu tinggal di mana? Kamu di sini cuma numpang!!”

Matsuya makin marah dan menonjok pipi si ayah duluan. Si ayah pun akhirnya terpancing emosinya. Ia mendorong Matsuya sampai jatuh tersungkur di lantai, kemudian membentaknya: “Kamu pikir bisa ngelawan aku? Kecepetan seribu taun!”

Pemandangan ruangan itu kini diganti dengan adegan petrarungan. Gilanya, Momiji tetap duduk manis di tempatnya dan meneguk isi gelasnya tanpa memperdulikan sekitar. Dan bagaimana pun si ayah memang lebih unggul, dengan gerakan cepat ia merobek nadi tangan dan kaki Matsuya. Darahnya langsung mengucur deras dari keempat tungkai tubuhnya.

Matsuya yang tergolek tak berdaya di lantai menjerit kesakitan, sementara si ayah juga sudah menderita luka- luka di berbagai tempat. Ia lalu kembali ke kamarnya sambil sedikit terhuyung dan tak lupa memerintahkan pelayannya untuk menyekap dan membelenggu Matsuya.

Beberapa orang datang dan langsung menutup luka sayatan di tangan dan kaki Matsuya. Kemudian mereka menggotongnya ke ruangan tempatnya berada sekarang. Tanpa menggerakkan kepalanya sedikit pun, Momiji melirik darah adiknya. Banyak yang keluar. Ia melanjutkan meminum isi gelasnya sampai habis.

Kemudian ia membawa satu tempayan yang terisi penuh dan sebuah gelas yang bersih ke tempat adiknya. Waktu ia sampai di sana, tak ada siapa- siapa lagi kecuali Matsuya yang sudah terbaring dan dibelenggu, tidak ada lagi pesuruh si ayah.

“Ini. Minumlah,” kata Momiji singkat.

“Maaf ya, kak,” Matsuya bicara tanpa berani memandang wajah Momiji. Ia tahu ia salah. Ia sudah melanggar janjinya untuk tidak mengacau.

“Yah, apa boleh buat ‘kan? Dia emang sengaja mancing emosi kamu kok. Udah, pokoknya kamu harus minum dulu,” kata Momiji sambil menuangkan isi tempayan itu ke gelas. Lalu ia mengambil tempat di samping adiknya dan memangku kepalanya. Ia menempelkan bibir gelas itu ke mulut adiknya.

Matsuya merasa sangat bodoh dengan kondisinya. Ia selalu saja menyusahkan kakaknya. Ia yang duluan membuat masalah dan sekarang tetap saja harus berakhir dengan ditolong Momiji. Dulu juga pernah ada kejadian seperti ini, di mana Matsuya ditolong Momiji.

“Maaf, ya,” katanya lagi. Matanya berkaca- kaca.

Momiji mengelus rambutnya, “Ga pa- pa. Kita ini ‘kan kakak- adik, maklum saling tolong.”

“Enggak. Ada juga yang saling ga peduli, bahkan saling bunuh. Saya selalu nyusahin kakak. Saya juga ga bisa menepati apa yang udah saya omongin. Saya..” Matsuya tak bisa mengatakan apa pun lagi karena tenggorokannya begitu sakit. Air matanya tumpah.

Melihat adiknya belum bisa minum, Momiji meletakkan gelas itu di lantai dekat kakinya dan memeluk Matsuya. Ia membiarkan Matsuya menangis, membebaskan segala emosinya.

“Ga usah ditahan- tahan. Biar aku aja yang tau sisi terlemah kamu,” kata Momiji.

“Nah, begitulah,” kata Matsuya di akhir ceritanya, “Makanya aku ngerasa ga bisa lepas dari kakak.”



Desire XI

Lalu, di mana pentingnya?


“Kamu ga ke dokter?” tanya Atsushi.

“Hah?”

“Kalo dibiarin aja, nadinya tetep kebuka terus ‘kan? Tuh, darah di perban kamu juga..”

“Ini darah karena aku narik- narik tangan aku sendiri. Padahal aku udah tau kalo itu sia- sia, tapi tetep aja aku lakuin, makanya pergelangan tangan aku jadi kesayat- sayat,” kata Matsuya kemudian membuka balutan perban di tangan kirinya.

Benar- benar tak ada darah sedikit pun yang keluar dari daerah nadinya. Yang ada hanya bekas sayatan seperti pada luka lama yang sudah menutup kuat.

Atsushi jatuh dalam kebimbangan: apa orang yang dia percayai dengan nyawanya ini membohonginya? Tapi seingatnya dulu memang tak ada bekas luka di situ. Lalu dengan mendengar cerita matsuya barusan, bagian mana dari cerita itu yang bisa membuatnya terikat?

“Aku ga pernah bohong, Atsushi,” katanya kemudian. “Paling bentuk kebohongan aku itu seperti ga nyebutin suatu cerita secara lengkap. Tapi itu juga ga sepenuhnya bisa disebut kebohongan. Makanya, aku ga pernah bohong. Sekarang aku tanya kamu lagi, kamu siap hidup sebagai individu yang ga sebebas dulu?”

Atsushi tersenyum tipis, “Berarti masih ada bagian cerita yang ga kamu sebutin secara lengkap, ya? Sebutin,” tantangnya.

“Huh, yakin banget. Aku ga tau ya, kamu yang minta,” kata Matsuya menerima tantangan itu.

Kemudian ia mulai memperjelas detil- detil cerita itu. Dimulai dari sayatan di nadi tangannya. Matsuya kemudian mengambil belati yang ada di dalam kantung celananya dan diserahkan pada Atsushi, “Sayatlah,” katanya sembari mengulurkan lengan kanannya.

Tentu seperti yang kita semua perkirakan, Atsushi terkejut pada awalnya. Tapi pada detik berikutnya matanya tiba- tiba berkilat dan ia menyambar belati yang ada di tangan Matsuya. Dia juga menggenggam pergelangan tangan pria yang terbaring itu lalu menyayat tepat di nadinya. Darah langsung menyembur kencang dari sana.

Sambil menahan sakit Matsuya mendesis, “Kamu pilih tempat yang bagus rupanya.”

Keajaiban terjadi pada detik kedua puluh lima, luka itu menutup sempurna. Melihat hal ini Atsushi merasa ia tak akan terkejut dengan apa pun lagi. Maka ia meminta Matsuya untuk melanjutkan penjelasannya.

Detil kedua, mengenai apa yang mereka minum saat makan siang bersama: darah.

“Kamu sadar ga selama aku cerita aku sama sekali ga nyebut kata ‘makan’, aku hanya nyebut ‘minum’,” tes Matsuya.

“Tapi selama aku kerja di sini, kamu juga ‘kan makan,” wajah Atsushi mulai was- was. Sepertinya ia mulai sadar makhluk apa yang ada di depannya sekarang.

“Siapa yang bilang aku ga bisa makan? Darah itu makanan utama, tapi yang laennya ya tetep bisa dimakan, walau pun ga ada efek apa- apa.”

“O ya, terus waktu itu, pas kamu gila- gilaan di taman, kan kamu dikasih makan banyak banget. Katanya gara- gara kamu laper. Berarti makanan biasa juga bisa ngenyangin kamu dong,” cecar Atsushi.

“Sedikit. Sangat sedikit. Kamu inget yang aku sebut obat dari Momiji? Yang rasa neraka itu. Kalo mau tau, itu tuh darah yang udah dipadatkan kandungannya. Minum satu sloki kaya udah ngisep satu orang. Makanya rasanya jadi ga enak banget. Itu yang bikin aku kenyang,” ucapnya sambil tertawa tipis.

Mendengar penjelasan Matsuya, wajah Atsushi memucat. Perutnya mulai terasa mual, ia membekap mulutnya sendiri. “Berarti yang waktu itu aku masukin mulut..”

“Ya. Itu darah.”

Tak lupa Matsuya juga memberitahu Atsushi isi tempayan yang dibawa Momiji saat menjenguknya: darah. Karena dengan kehilangan darah sebanyak itu, ia pasti sangat kelaparan.

Melihat Atsushi yang kini jadi tidak nyaman, Matsuya mengulurkan tangan dan mengelus kepalanya, “Kamu takut?”

Atsushi terdiam di bangkunya, matanya bergerak- gerak mencerminkan isi kepalanya yang juga sedang berputar cepat. Kemudian ia menatap lurus Matsuya, “Bukannya kalo udah denger ini aku malah jadi terikat? Berarti mau takut gimana juga aku ga bisa pergi dong. Kalo aku kabur, pasti ada yang ngejar aku ‘kan? Karena aku udah tau rahasia ini..”

Matsuya tak menjawab, ia hanya terus mengelus kepala Atsushi sambil menatapnya lembut.

“Ga, aku ga takut,” lanjutnya. “Aku hanya mual waktu tau isi mulut aku waktu itu darah. Selebihnya.. aku bahkan bersedia kalo kamu mau minum darah aku. Aku senang asal bisa berguna buat kamu,” ucapnya kemudian menggenggam tangan Matsuya.

“Oh yah?” tantang Matsuya yang kemudian menurunkan tangannya ke daerah leher Atsushi.

Jantung Atsushi berdebar kencang. Ia curiga jangan- jangan Matsuya bisa mendengar debaran jantungnya yang begitu kencang. Napasnya jadi sedikit tersengal karena jantungnya yang begitu keras berdebar.

Atsushi turun dari bangkunya dan bersimpuh di samping ranjang Matsuya, mendekatkan wajahnya ke wajah sang pemangsa. Matsuya pun menarik bagian leher itu hingga sampai di depan hidungnya. Atsushi memejamkan matanya.

Begitu Matsuya mulai membuka mulutnya, ia berbisik di telinga Atsushi, “Tapi sayang sekali aku ga bisa gigit kamu.”

“Hah?” Atsushi yang jadi kalang kabut karena malu mengibas- ngibaskan tangannya dan mengomeli Matsuya.

Matsuya tertawa melihat tingkah Atsushi itu, “Wahaha.. lucu.”

“Apanya?!”

“Hm.. Hm.. Aku emang ga bisa gigit kamu, nih liat aja ga ada taringnya ‘kan? Lagian Momiji juga ngelarang aku gigit kamu. Ga tau kenapa.”

“Hm? Emang taring kamu ke mana? Terus kalo udah ga ada taring kenapa masih harus dilarang juga? Berarti kamu masih tetep bisa gigit dong tanpa taring juga?!” kejar Atsushi.

“Ikh.. cerewet. Iya, masih bisa. Tapi nanti yang digigitnya kesakitan. Emang kamu mau?” Matsuya melirik Atsushi dengan sorot mata menggoda.

“Terus taring kamu ke mana?” Atsushi berusaha mengalihkan pembicaraan karena ia mulai salah tingkah.

Matsuya membisu sesaat sebelum menjawab pertanyaan ini, “Diambil ‘orang itu’,” katanya kemudian. Atsushi merasakan kemarahan yang merebak seketika. Ia tak lagi mengungkit soal taring.

Keheningan menjalari ruangan itu. Atsushi celingukan karena bingung mau melakukan apa. Secara tak sengaja ia melihat sebuah tempayan dan gelas berkaki tinggi berisi cairan gelap bersebelahan di atas meja kayu bundar. Ia mendatangi meja itu dan melongok ke dalam tempayan. Masih penuh.

“Kamu.. belum minum sama sekali?”

Matsuya menelengkan kepala ke arah suara tersebut, “Belum,” jawabnya.

“Mau minum?”

Matsuya mengangguk.

Setelah itu Atsushi membawa tempayan beserta gelasnya mendekati ranjang. Ia kemudian mendekatkan gelas itu ke mulut kekasihnya. Laki- laki lemah itu berusaha duduk dan menyandar di sandaran tempat tidur, namun rantai kakinya tak sepanjang yang ia bayangkan. Sehingga membuat Atsushi berinisiatif duduk di belakang punggungnya, menjadi sandarannya. Selama menemani Matsuya minum, ia terus memeluknya dari belakang, membagi panas tubuhnya, mengingat ruangan itu lumayan dingin dan Matsuya hanya memakai kemeja compang- camping. Sepertinya ia belum sempat mengganti bajunya setelah berseteru dengan si ayah. Ada noda darah di sana- sini, bagian dadanya juga terbuka, entah kancingnya sudah berhamburan ke mana. Pipi Atsushi menempel ke pundaknya.

Setelah selesai minum – seluruh isi tempayan itu habis – ia diam dalam posisinya, membiarkan sang kekasih berpuas mendekapnya.



Desire XII

Oh, ternyata di situ pentingnya..


Pasangan kekasih itu akhirnya ketiduran sampai pagi. Tak ada cahaya matahari yang mengintip masuk, melainkan Momiji yang masuk ke sana. Sebelum membangunkan mereka, ia memperhatikan wajah adiknya yang begitu tenang tertidur di pelukan Atsushi. Ia jadi enggan memisahkan, tapi sebentar lagi ‘orang itu’ akan datang untuk melihat kondisi anaknya.

“Matsuya,” panggilnya dengan nada suara yang ditekan.

Tanpa perlu panggilan kedua, anak itu sudah bangun. Gerakkan badannya membangunkan Atsushi yang terus menerus memeluknya. Kontan ia berdiri siaga di samping ranjang tanpa bisa mengatakan apa pun.

“Ga pa- pa, aku udah tau,” ucap wanita itu melirik Atsushi. “Matsuya,” katanya lagi lalu mendekati adiknya dan menggenggam tangannya, “Kamu adikku. Kali ini mungkin bakal lebih berat dari yang kemaren, dengan kondisi kamu yang kaya gini. Satu hal yang perlu kamu inget, aku percaya sama kamu,” jelasnya sambil menatap adiknya dalam- dalam, kemudian pergi begitu saja.

Anak itu tahu jelas kakaknya begitu serius barusan. Maka ia benar- benar menyiapkan mentalnya untuk menyambut kedatangan sang musuh. Untuk tak mengacaukan lagi janjinya.

Sesuai yang diperingatkan, ‘orang itu’ akhirnya datang. Sendirian. Baru beberapa detik di dalam, ia sudah mendidihkan amarah Matsuya dengan mengusir Atsushi secara kasar: mengetahui yang datang adalah tuan besar Azusagawa, ia terus menunduk. Berbagai ketidaknyamanan merayapi dirinya, tapi ia tetap bertahan untuk menemani Matsuya. Melihat Atsushi yang kikuk, ia malah meliriknya tajam dan bertanya, “Kamu ga bisa biarin ayah sama anak ngobrol berdua aja? Jangan- jangan kamu lagi yang bikin anakku jadi kaya gini!” Tidak tahan mendengarnya, Matsuya menyuruhnya pergi ke luar ruangan.

Atsushi menunggu di luar ruangan, membuatnya sangat khawatir. Berkali- kali ia melakukan aksi jongkok- berdiri, jongkok- berdiri sampai pada pengulangan yang ke sekian ia mendengar teriakan Matsuya begitu keras dari dalam, “Emangnya siapa yang anak lu, bangsat!!” disertai bunyi dentingan besi.

Belum sempat ia menutup mulutnya yang melongo, pintu di sebelahnya sudah terpental lepas. Matsuya. Matsuya menendangnya sampai lepas. Baru pertama kali Atsushi melihat raut wajah yang begitu marah, yang begitu mengerikan. Alaram tanda bahaya sudah meraung- raung menyuruhnya lari, tapi kakinya lemas sampai tak bisa digerakkan.

Makhluk buas itu menoleh, menatapnya langsung di mata, “Ayo, cepet ikut aku lari!” serunya sambil mengulurkan tangan.

Bagai terhipnotis, ia menyambut uluran tangan itu dan di saat berikutnya ia sudah berlari bersama si buas. Ia sudah tak tahu lagi apa saja yang dilewatinya, dan mengarah ke mana si buas itu membawanya berlari. Ternyata kamar Momiji.

“Kak, maaf..” kata si buas. Atsushi menoleh dan mendapati wajah si buas seperti wajah anak kecil yang takut dimarahi. Ia tak lagi ingin kabur, ia mengencangkan genggaman tangannya di tangan anak kecil itu.

Ternyata Momiji sudah mengenakan pakaian lengkap, “Ga pa- pa. Aku udah bilang aku percaya kamu. Ayo kita kabur sekarang!” serunya sambil melewati dua anak itu.

Saking leganya mengetahui Momiji tidak marah, biar tubuhnya sudah penuh luka, ia tertawa keras- keras. Mengikuti kakanya berlari. Ia pikir akan menuju garasi, ternyata tidak. Langsung keluar rumah. Sudah ada sebuah mobil yang menunggu dengan mesin menyala di sana. Mengikuti yang dilakukan kakaknya, Matsuya pun menaiki mobil itu dengan tangan Atsushi yang masih tetap ada dalam gandengannya.

Mobil itu langsung melaju kencang. Terlihat anak buah si ayah mengejar mereka dari belakang, namun segerombolan mobil tiba- tiba muncul memenuhi jalanan. Lolos. Mereka berhasil lolos dari pengejaran sang ayah.

“Fuuh.. makasih ya, Ion,” kata Momiji masih mengatur napas.

“Senang bisa membantu Anda,” sahut pria di balik kemudi tersenyum tulus. “Anda mau sesuatu? Minum misalnya?”

“Enggak, makasih,” jawabnya. “Matsuya? Atsushi?”

“Enggak,” sahut mereka berdua hampir bersamaan.

Kemudian Momiji meminta adiknya menceritakan kejadian waktu si ayah di kamar bersamanya. Ternyata ‘orang itu’ mengungkit perihal taringnya. Ia menyindir- nyindir Matsuya sebagai banci tak bertaring. Tentu ia panas dikatai demikian karena taring tak ubahnya harga diri bagi bangsa vampir. Ia masih bisa menahan dirinya waktu itu, mengingat kakaknya yang begitu serius memberinya peringatan.

“Tapi terus dia nyebut- nyebut tentang kakak. Aku jadi marah, terus aku bisa mutusin rantai borgolnya. Abis itu aku tendang pintu. Terus aku lari,” jelasnya dengan gaya bicara anak kecil yang mengadu pada ibunya.

“Emang dia bilang apa tentang aku?”

“Emhh.. yah intinya dia bilang aku harusnya nyontoh kakak jadi anak baik untuk membahagiakan ayahnya. Padahal aku ‘kan tau, sebenernya nggak gitu.”

Atsushi membatin, rupanya inilah awal mula pembicaraan yang akhirnya membuat Matsuya meneriaki pria tua itu dan bilang dia bukan ayahnya.

Sekitar setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah bangunan yang rusak dan terlantar. Sebuah konstruksi bangunan yang tak dilanjutkan pembangunannya lalu dibiarkan rusak sendiri. Momiji berjalan berdampingan dengan orang yang dipanggilnya Ion, diikuti dua orang lainnya. Mereka terus masuk ke dalam. Cahaya makin berkurang, hingga pada satu titik di mana ia hampir hilang, muncul cahaya lainnya yang lebih terang. Lampu neon.

Tanpa sadar Matsuya dan Atsushi dibawa turun ke bawah tanah entah sudah melewati berapa lantai di atas. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah mungil. Ion maju ke depan pintu dan memutar sebuah anak kunci yang diambilnya dari kantung.

“Silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri,” ucapnya ramah.

“Ini.. apa? Markas organisasi rahasia?” tanya Matsuya setengah meledek.

“Bukan. Ini rumah saya, maaf kalau mengecewakan,” jawabnya sungguh- sungguh.

Matsuya malah jadi jengkel melihat orang yang lugu begitu. Ia memalingkan wajahnya dan menarik tangan Atsushi, “Ayo Atsushi, kita keluar aja.”

Di luar, tanpa diminta, Matsuya bercerita pada Atsushi tentang masa lalunya. Dulu ada sebuah keluarga vampir yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak. Anak pertama perempuan, waktu itu berumur tiga belas tahun, namanya Momiji. Anak kedua laki- laki berumur sembilan tahun, bernama Matsuya. Lalu yang paling kecil adalah anak kembar bernama Freyja dan Freyr, diambil dari nama dewa di Mitologi Yunani. Sama seperti dewa dan dewi itu, Freyr yang merupakan kakaknya adalah laki- laki, dan Freyja perempuan. Umur mereka empat tahun.

Si ayah bukanlah seorang pembela kebenaran atau apa pun yang mencolok sehingga memiliki musuh. Tapi ia tetap saja punya musuh: Baldor, temannya semasa kecil dulu. Entah karena dendam apa sampai ia begitu bernafsu menghancurkan kehidupan Toshihiko, ayah kandung Matsuya.

Suatu malam ia datang dan menyerang rumah. Freyr dan Freyja yang sedang tidur dibawa lari ibu mereka. Namun terlambat karena anak buah Baldor sudah menunggu mereka di jalanan dan menangkapnya. Momiji dan Matsuya juga tertangkap.

Mereka dibawa ke sebuah ruangan yang sekelilingnya dinding dengan hanya satu lampu gantung sebagai penerangan. Toshihiko menenangkan istri dan anak- anaknya dengan menjamin bahwa mereka pasti bisa pulang. Si istri menjawab tidak ada artinya pulang kalau anggota keluarga yang pulang tidak lengkap. Ia menyadari rencana si suami yang akan mengorbankan dirinya demi keselamatan anggota keluarga yang lain.

Tak lama kemudian Baldor memasuki ruang kurungan itu. Ia berbincang sedikit dengan Toshihiko, Matsuya tak ingat jelas apa yang mereka obrolkan waktu itu. Setelah membisikkan sesuatu di telinganya, Baldor tersenyum jahat, sedangkan mata Toshihiko membelalak. Si ayah langsung berbalik menghadapi keluarganya dan meneriaki mereka untk lari. Sayang, sebenarnya sejak pertama kali ia memasuki bangunan itu, ia sudah tak memiliki harapan.

Baldor melemparkan dua bilah pisau yang langsung mengiris putus urat kaki Toshihiko. Istrinya menjerit histeris melihat suaminya diperlakukan demikian. Ada satu kalimat yang diingat Matsuya: “Dulu kamu merebut semua duniaku. Malam ini akan kubakar habis duniamu,” kata Baldor sebelum akhirnya memperkosa Trisha di depan mata suaminya yang tak bisa melakukan apa- apa lagi. Ia hanya menjerit, menjerit, dan menjerit. Menangisi keluarganya yang disakiti sementara ia sendiri merasa bodoh dan tak berguna.

Setelah memperkosa Trisha, Baldor memutuskan nadi leher wanita itu dengan pisau yang sama, yang memotong urat kaki suaminya. Kedua tangan Toshihiko di tahan anak buah Baldor dengan sudut pandang penonton. Menonton satu per satu istri dan anaknya dianiaya.

Setelah membunuh si ibu, Baldor mengambil Freyr dan Freyja lalu membunuhnya juga. Sampai di Momiji, gadis itu bermata mati. Sorot mata yang begitu datar seperti tak beremosi, ia sama sekali tak menangis.

“Anak yang kuat. Kita liat sampai mana kamu tahan,” kata Baldor kemudian mulai menyayati kulit anak itu. Darah mengalir dari luka- lukanya, Momiji menjerit kesakitan. Jerit yang begitu memilukan, namun Baldor seperti tuli dan tak mendengar suara itu sama sekali.

Tanpa diduga Matsuya menggigitnya dari belakang. Lalu saat ia berdiri karena terkejut dan bermaksud melepaskan gigitan itu, tubuh Matsuya malah ikut terangkat, saking kuat gigitannya. Baldor berhasil menangkap lengan anak itu dan menariknya lepas, lalu menghempaskannya ke arah dinding. Momiji menjadikan tubuhnya sendiri bantalan supaya Matsuya tidak terluka parah, akibatnya hidungnya patah terantuk kepala adiknya.

Melihat peristiwa heroik ini, Baldor menyebut mereka ‘barang bagus’ dan menyuruh anak buahnya memindahkan mereka ke ruangan lain. “Mereka punya potensi,” katanya. Waktu diseret keluar dari sana, itu adalah terakhir kalinya mereka melihat Toshihiko.

Mereka dibawa ke sebuah ruangan aneh yang hanya diterangi lilin. Banyak sekali, seperti membentuk suatu pola, tapi karena pola itu besar, mereka tak bisa melihat jelas pola apa itu. Hal lain yang diingat Matsuya adalah gambar- gambar aneh dan menyeramkan yang tersebar di seluruh penjuru ruangan itu.

Beberapa jam lewat, daun pintu berayun dan muncullah sosok Baldor yang berlumuran darah. Matsuya langsung meneriakinya dan menanyakan ayahnya. Namun pria itu tidak mempedulikannya, ia berbicara pada salah satu anak buahnya yang kemudian membawa Momiji pergi ke ruang lain.

Kini di ruangan itu tinggal Matsuya berdua dengannya. Pria itu menumpahkan amarahnya yang telah digigit oleh Matsuya dengan kata- kata, sebelum akhirnya ia mulai menumpahkan amarahnya dengan cambukan. Matsuya yang bilur- bilur, bahkan berdarah di beberapa tempat sudah tak mampu lagi melawan. Ia yang terkulai lemah ditaruh Baldor di atas sebuah meja.

Samar- samar diingatnya, tapi itulah saat di mana Baldor mengambil taringnya. Taring diambil bukan dengan cara dicabut, melainkan dengan membacakan mantra dan memberi nama ulang si korban. Dengan upacara ini, taring ditarik masuk ke dalam gusi hingga sepanjang gigi normal tanpa bisa dikeluarkan lagi. Itulah yang dilakukan si iblis pada Matsuya. Prosesnya begitu menyakitkan, bahkan beberapa hari setelah upacara itu.

Setelah taringnya diambil, ia dikurung di sebuah sel bersama dengan kakaknya. Entah apa yang dilakukan Baldor pada Momiji, tapi tak terlihat perubahan apa pun pada kakaknya.

Sampai sekitar lima hari sejak upacara itu Matsuya (nama yang diberikan Baldor) tidak mau makan. Sebentar lagi ia mencapai batasnya. Baldor mendatangi sel mereka dan menyuruh anak itu makan. Ia tak mau ‘barang berharga’nya mati sia- sia. Namun karena pakai cara biasa tidak berhasil, kontan pria itu menarik Momiji. Tanpa melawan, gadis itu membiarkan dirinya diseret ke mulut singa. Baldor mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mulai mengulang perintahnya pada Matsuya untuk makan. Tiap kali anak itu menolak atau membangkang, satu sayatan akan mendarat di tubuh Momiji.

Gadis malang itu sama sekali tidak meminta adiknya untuk menuruti perintah si bodoh, bahkan ia menghindari bertemu mata dengan anak itu. Ia hanya menjerit kesakitan tiap kali bilah pisau yang dingin menyentuh kulit bahkan dagingnya. Ia benar- benar membebaskan adiknya untuk memilih.

Pada jeritan ketujuh, Matsuya menyerah. Ia menerima perintah untuk makan. Baru disadarinya ia sangat kelaparan. Waktu segelas besar darah disodorkan padanya, ia langsung menegak habis isinya. Bahkan Baldor sudah menyiapkan gelas- gelas lainnya. Begitu yang satu habis, ia meletakkan yang lainnya di depan Matsuya. Dikuasai rasa lapar dan haus yang begitu menggila, ia tak henti- hentinya berganti gelas sampai empat kali. Jadi keseluruhannya ada lima gelas.

Bukan karena baik, ia menyediakan semua makanan itu, melainkan untuk menertawakan si kecil malang. Membalaskan kejengkelannya akan sikap Matsuya yang sombong dan sulit diatur.

Sebelum pergi dari situ, ia mengolok anak itu, “Heh, jadilah anak manis kayak kakakmu.”

Kurang lebih empat tahun mereka habiskan di bangunan yang sampai sekarang belum pernah mereka lihat bagian luarnya. Suatu hari mereka dipindahkan ke sebuah rumah dan tinggal bersama ‘si ayah’ layaknya sebuah keluarga bangsawan. ‘Si ayah’ juga memberikan mereka nama belakang ‘Azusagawa’.

“Jadi nama asli kamu siapa?” tanya Atsushi.

“Ga tau. Aku lupa. Momiji juga lupa. ‘Momiji’ juga ga tau nama asli atau bukan. Beberapa informasi di ingatan aku dan kakak dibungkus pake mantra,” urainya terlihat putus asa.

“Ada cara ngebalikinnya ga?”

“Cih. Mana mau orang itu ngelepas mantra yang dia pasang? Jadi ga ada cara ngebalikinnya,” jawabnya dengan wajah miris yang berusaha disembunyikannya.

“Ada,” kata Momiji yang sudah ada di belakang mereka, “Kalo ada seseorang yang bisa manggil nama asli kita. Manggil jiwa kita untuk bangkit.”

“Siapa orangnya?” tanya Atsushi.

“Seseorang. Aku ga tau siapa. Hanya dia sendiri yang tau,” jawabnya sambil menatap mata Atsushi penuh arti. Kemudian seperti yang sudah- sudah, gadis itu langsung pergi setelah meninggalkan atmosfir yang intimidatif.

“Dia.. Em, Momiji.. apa dia pernah di..”

“Ga. Baldor takut sama kakakku. Ga tau apa, tapi keliatan jelas kalo dia takut sama Momiji. Emang dia semena- mena juga sama kakak, tapi sambil nyiksa, dia keliatan ati- ati. Dia kayak takut nyentuh sesuatu dalam diri kakak. Makanya kalo diinget- inget, si brengsek itu ga pernah ngasih tekanan mental ke kakak. Hanya ke aku aja. Dia ga pernah maksa kakak melakukan sesuatu dengan make aku sebagai sandra. Singkatnya, dia ga pernah nyayat- nyayat aku untuk maksa kakak melakukan sesuatu,” kata Matsuya sambil menatap tanah. Ia terlihat marah. Kini Atsushi tau betul kakak beradik ini saling menyayangi, terlebih dari itu, mereka terlihat seperti ‘partner’. “Lagian kakak emang ga pernah nolak kalo disuruh. Haha.. Eh..” tawanya yang dipaksa itu tertahan. “Pernah. Dia pernah nolak.”

Matsuya tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Karena begitu lama, Atsushi akhirnya memberanikan mulutnya bergerak, “Apa itu?”

“Waktu dia disuruh ngebunuh anak buah Baldor yang mengkhianat, tapi terus ketangkep. Dia nolak dan berakhir dengan kulitnya yang lagi- lagi hancur, kali ini, karena dicambuk. Padahal waktu itu aku ada di sebelah Baldor. Dia sama sekali ga bikin aku cidera untuk maksa Momiji. Bahkan akhirnya dia nyerah maksa Momiji dan hanya ngebalikin dia ke sel setelah berlumuran darah. Secepat apa pun regenerasi sel kami, itu ga bisa dijadiin alasan untuk merusak kulitnya berkali- kali. Sialan!! Huff..” Matsuya mengembuskan nafas panjang yang begitu berat. Membisikkan dendamnya yang tak lagi bisa diungkapkan dengan kata- kata.

Selama itu, Momiji mengamati mereka dari balik jendela bersama dengan Ion. “Adikku itu anak yang manis. Beda sama aku. Dia anak baik,” katanya.

Ion menoleh waktu mendengar Momiji berbicara, seperti reflek yang biasa kita lakukan kalau ada orang di samping kita yang tiba- tiba bicara. Detik berikutnya ia menelan kembali kata- kata yang akan ia gunakan untuk menimpali ucapan Momiji, melihat keseriusan di wajah datar wanita itu.

Sejak pertama kali bertemu, ekspresi wanita itu selalu datar. Tapi lama kelamaan ia bisa mengenali mood- mood wanita itu tanpa petunjuk sedikit pun dari ekspresi wajahnya. Lalu kali ini, wanita di sebelahnya itu sedang.. marah besar.



Desire XIII

Pindah orientasi seksual.. lagi? Apa yang salah denganku??


Momiji memanggil dua anak itu masuk, “Hei, kalian mau sampe kapan di luar? Minimal basa- basi dulu sama yang punya rumah.”

Waktu mereka masuk ternyata di dalam sudah banyak orang. Ada yang duduk di depan TV sambil makan, ada yang duduk di atas meja, pakaian mereka unik- unik, dan sebagian besar hanya berdiri saja mengamati arah pintu (tempat Matsuya dan Atsushi berdiri sekarang).

“Hai, aku Lithion. Panggil aja Ion. Aku..”

“Aku Matsuya, dia Atsushi. Kamu itu siapanya kakak?” jawabnya ketus.

“Oh, dia itu.. Dia..” Ion terlihat salah tingkah, “Dia itu majikanku,” lanjutnya kemudian dengan ekspresi yakin.

“Hah?”

Lalu seseorang menyambung ucapan Ion, “Kamu adiknya master ya? Kamu punya kakak yang hebat loh!”

“Udah, udah. Kalian ini ga berubah sama sekali,” kata Momiji pada teman- temannya. “Matsuya, kamu ke kamar aja, istirahat. Atsushi, ikut aku sebentar.”

Ion langsung menanggapi ucapan Momiji dengan mengajak Matsuya pergi dari situ. Menunjukkan kamar yang telah disiapkan untuk tiga orang pelarian tersebut.

Sementara Momiji mengajak Atsushi ke sebuah ruang latihan fisik. Ada beberapa orang lain di dalam sana. Momiji menjelaskan bahwa mereka akan menghadapi sebuah ‘perang’, maka dari itu Atsushi juga harus berlatih dan meningkatkan kekuatan fisiknya.

Sejak itu Momiji sering menemaninya berlatih dan memberinya pengarahan. Bahkan kadang ia mengajaknya melakukan sparing untuk menguji kekuatan sekaligus mengoreksi kesalahan gerakan Atsushi yang kurang efektif.

Lama kelamaan Atsushi merasakan adanya satu getaran tersendiri setiap kali ia melihat wanita itu. Waktu latihan, sedang bicara, sekedar lewat, bahkan saat Matsuya sedang disampingnya, ia masih sempat membagi perhatiannya untuk Momiji.

Di lain sisi Momiji juga menyadari perhatian yang berlebih padanya ini, maka suatu malam ia mengajak Atsushi bicara empat mata.

“Gimana hubunganmu dengan adikku?” adalah kalimat pertamanya mengawali pembicaraan.

“Oh, baik,” jawabnya sungkan.

“Begitu? Baguslah. Dia itu adik yang paling aku sayangi di dunia,” katanya. “Ya iyalah, adikku emang cuma satu..” sambungnya lirih.

Atsushi tertawa mendengar ucapan itu, begitu konyol untuk orang semacam Momiji, pikirnya. Dengan ini maka cairlah suasana di antara mereka. Mulai terdengar obrolan dan tawa. Bahkan kadang mereka sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Apa saja bisa mereka jadikan bahan percakapan.

Begitu merasakan saat yang pas akhirnya tiba, Momiji mengambil gerakan. Ia menatap Atsushi dalam- dalam, menjadikan laki- laki itu kikuk. Tak lupa ia juga mendekatkan wajahnya sampai lawannya kalang kabut.

Debaran jantung Atsushi mencapai puncak. Tak tahan lagi rasanya, sampai kapan ia harus diperlakukan seperti ini. Ketika bibir wanita itu sudah hampir menyentuh kulit lehernya, ketika ia sudah menyiapkan mentalnya, tiba- tiba serangan itu dibatalkan. Dengan cepat Momiji menarik kepalanya keluar dari jarak intim.

“Hah? Hheh.. hh..” Atsushi tersengal, ia sudah cukup terangsang waktu itu.

“Kamu.. suka sama aku?” tanya Momiji, sepetri biasa, tanpa ekspresi.

Atsushi tak bisa menjawabnya, ia hanya diam tertunduk, mendengarkan detak jantungnya sendiri.

“Kamu sebenernya ga suka sama aku. Itu hanya karena darah kamu aja.”

Atsushi menoleh cepat, “Maksudnya?”

“Kamu itu ‘darah murni’, manusia murni yang mewakili sisi maskulin manusia sekaligus sisi feminimnya. Makanya kamu pasti pernah berubah orientasi seksual ‘kan?”

“Maksudnya.. saya biseksual?”

“Bukan. Kalo biseks itu dalam saat yang sama dia suka dua- duanya. Coba kamu inget- inget, apa pernah kamu suka Tomoe sekaligus adikku?”

Atsushi tercekat, ternyata masalah penyamaran itu diketahui. Tapi ia berusaha mematuhi perintah Momiji untuk mengingat tentang perasaannya. Ya, ia tidak bisa. Ia tidak bisa suka pada Matsuya (laki- laki) sekaligus pada Tomoe (perempuan), makanya waktu itu Tomoe malah jadi harus hidup sebagai Tomoya (laki- laki).

“Saya.. ga bisa,” katanya setengah tak yakin.

“Ya. Karena sisi maskulin dan feminim kamu tidak bangkit dalam waktu bersamaan, mereka gantian,” timpal Momiji.

“Jadi nanti saya bakal terus- terusan ganti orientasi seksual?” tanya Atsushi dengan wajah panik, nampaknya ia tak suka jika harus hidup seperti itu.

“Dari awal, sebenernya bukan ganti. Hanya, mana yang sedang ‘aktif’. Gitu doang,” ungkapnya skeptis. “O ya, yang terpenting sekarang, aku butuh darah kamu.”

Wanita itu lalu menjelaskan bahwa darah murni bersifat racun bagi vampir. Cara paling mudah untuk membunuh makhluk abadi adalah dengan menggunakan darah murni. Dan ia ingin bisa membunuh Baldor menggunakan darah Atsushi. Tinggal satu yang ia pikirkan sekarang: bagaimana cara memasukkan darah itu ke dalam tubuh Baldor?



Desire XIV

Ayo, kita perang!!


Sore hari seminggu kemudian. Sebuah mobil van hitam menghentikan lajunya di depan kediaman Azusagawa, menurunkan tiga orang, kemudian langsung tancap gas lagi. Ketiga orang itu adalah: Momiji, Matsuya, dan Atsushi. Matsuya dengan balutan tuxedo hitam. Momiji dengan gaun hitam panjang, membuatnya tampak anggun. Terakhir, Atsushi, di cengkeraman tangan kiri Momiji, dengan balutan baju yang sama saat pertama kali mereka kabur, ditambah aksen kotor dan robek di beberapa tempat.

Tanpa perlu dipanggil, Baldor sudah keluar dengan sendirinya.

“Ayah, kami pulang,” sapa Momiji singkat.

Baldor terdiam memandangi tiga makhluk itu. Saat suasana mulai tidak enak, si ayah itu mendekat dan merangkul kedua anaknya, “Akhirnya kalian kembali.”

Kali ini giliran Matsuya, “Maaf, kami dihasut dia waktu itu,” ucapnya sambil menunjuk Atsushi.

Perhatian Baldor teralih ke arah yang ditunjukkan Matsuya. “Hmm, manusia,” bisiknya. Ia kemudian mengambil posisi di belakang kedua anaknya, kemudian berjalan sambil merangkul pinggang anak- anak itu, mengarahkannya masuk melalui pintu utama. Sambil jalan ia bertanya, “Kenapa tidak kalian bunuh ditempat? Malah dibawa pulang lagi.”

“Kita bawa pulang untuk ayah. Udah lama ‘kan, ga minum langsung dari yang hidup?” jawab Momiji.

Baldor tertawa, “Bagus, bagus. Kadang aku ga ngerti jalan pikiran kalian.”

Sesampainya di dalam rumah, mereka mengobrol di perpustakaan sampai malam. Baldor menceritakan pekerjaannya di luar negeri. Sesekali Momiji meriasi wajah tanpa ekspresinya dengan tawa atau senyum tipis. Matsuya duduk tenang di tempatnya, menyimak cerita ayahnya itu. Ia yang biasanya cenderung apatis, beberapa kali menimpali cerita ayahnya dengan celetukan dan tawa.

“Inilah keluarga yang ayah impi- impikan dari dulu sebenarnya,” kata Baldor kemudian. “Kalian jangan pergi lagi ya. Juga jangan berubah lagi,” lanjutnya.

Dua anak itu hanya saling pandang dan tersenyum.

Momen harmonis itu terpaksa dilanjutkan di ruangan lain, karena seorang pelayan melaporkan makan malam telah siap.

Di meja makan, keakraban tetap terjalin diantara mereka bertiga. Dua anaknya sudah minum banyak, tapi sang ayah baru minum satu gelas, itu pun belum habis.

“Ayah cuma minum sedikit,” tegur Matsuya.

“Oh, ayah kan punya yang spesial,” jawabnya berseri. “Oleh- oleh dari kalian,” tambahnya lirih. “Bawa masuk!” perintahnya pada seorang pelayan.

Daun pintu mengayun. Muncullah makhluk malang itu: Atsushi. Bajunya sudah diganti. Sebelum ia nenggerakkan kakinya satu langkah pun, Baldor sudah lebih dulu menghampirinya dan menarik kerah bajunya, melemparnya ke tengah ruangan.

Tak hanya Atsushi sendiri, Matsuya dan Momiji juga terkejut. Seruan kaget Matsuya berpadu dengan rintihan Atsushi yang menerima lantai dengan bahu kirinya. Sedangkan Momiji, dari dulu ia memang tak pernah bersuara kalau kaget. Paling banter ia hanya membelalakkan matanya. Dan reaksi yang sekejab itu dapat dengan mudah diatasinya.

Baldor menoleh, “Kenapa? Kamu peduli sama dia?” tanyanya pada Matsuya.

Matsuya tak menoleh, ia tak bisa melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu. Ia hanya menjawab, “Dulu dia kekasihku, ayah.”

“Baiklah, akan ayah selesaikan dengan cepat,” jawabnya sambil mendatangi Atsushi. “Berterima kasihlah pada Matsuya. Kalau bukan karena dia, kamu ga akan berakhir semudah ini,” ucapnya sambil memegang dagu Atsushi.

Hal berikutnya yang disadari Atsushi adalah kulit lehernya sudah ditembusi taring Baldor. “Khhh..” desisnya. Ia merasa pusing. Sesuatu seperti ditarik keluar dari tubuhnya. Jiwanya serasa terbakar. Pandangannya kabur. Kesadarannya memudar. Di detik- detik terakhir, ia berseru dalam hati, memanggil nama kekasihnya, “Matsuya, tolong!”

Dirasakannya lengannya ditarik. Dan taring- taring yang masih tertancap itu merobek kulitnya. Samar dikenalinya wajah yang ada di depannya berganti. Kini wajah Matsuyalah yang ada di depan matanya.

“Jangan banyak gerak ya, kamu kehilangan banyak darah,” ucap Matsuya. Atsushi menjawabnya dengan anggukan.

Dari dalam dekapan Matsuya yang membawanya pergi menjauhi keributan, ia melihat ke balik punggung pria itu. Momiji bersama teman- temannya sibuk melawan anak buah Baldor yang berjaga di seluruh penjuru ruangan. Sedangkan Baldor sendiri terkapar di lantai sambil memegangi lehernya. Keracunan. Mulutnya megap- megap. Wajahnya mencerminkan penderitaan. Pemandangan yang dirindukan Matsuya sejak lama. Pria itu terus berjalan sambil menggendong kekasihnya. Langkah- langkah kakinya begitu mantap, semantap senyum di wajahnya.



Desire XV

Aku, memanggilmu untuk bangkit


Sinar matahari yang mengelus lembut kelopak matanya, serta kicauan burung yang membelai telinganya memulangkan kesadaran Atsushi kembali ke tubuhnya. Hal pertama yang disadarinya adalah dirinya tidur beratapkan pepohonan. Yang kedua, beralaskan rumput. Yang ketiga, berselimutkan Matsuya. Anak vampir yang lelah itu tertidur di sebelahnya, memeluknya.

Atsushi memutuskan untuk tidak melakukan apa- apa. Memutuskan untuk menikmati momen itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian selimut hangatnya itu bergerak. Kemudian mulai meregangkan tubuhnya.

“Selamat pagi,” sapa Atsushi.

“Pagi,” jawab Matsuya. Ia langsung melihat kondisi leher Atsushi.

“Udah ga pa- pa,” ucapnya tanpa ditanya. “Tapi Baldor sekarang udah mati. Gimana caranya narik mantra yang ada di kamu?”

“Entahlah. Mungkin aku bakal gini selamanya. Biarinlah..” ungkap Matsuya ringan. Keputus-asaan yang menggelayutinya perihal kutukan tertutupi oleh rasa gembira dan puas akibat dendam yang terbalaskan.

Rasa kantuk mendadak menyergap Atsushi. Langsung menarik- nariknya dengan kuat untuk meninggalkan tempat itu. Sebagai ucapan terakhirnya sebelum meninggalkan Matsuya sendiri di sana, ia berkata, “Tenang aja, kamu tetep gini juga aku suka kok. Makasih ya, Raquel,” kemudian jatuh tertidur.

Seketika angin besar menerpa tubuhnya. Awalnya mendorong, tapi kemudian melingkupi dirinya. Angin besar yang dingin. Menyegarkannya. Membasuh wajahnya, ingatannya. Membangunkannya. Menarik jiwanya pulang. Ia telah kembali. Raquel telah bangkit. Kutukannya patah karena namanya, nama aslinya, dipanggil.

Setelah peristiwa luar biasa itu lewat, ia menoleh cepat, ingin segera membagi kegembiraannya dengan teman seperjalanannya. Namun yang ia dapati hanya wajah Atsushi yang pulas terlelap. Diputuskannya untuk mengecup kening Atsushi kemudian pergi.

Ia berlari sekencang- kencangnya, melompat, berlari lagi, kadang berguling- guling di rumput dan tertawa. Belum pernah ia merasa dirinya seutuh ini. Namanya adalah Raquel. Ia ingat semuanya. Setiap detilnya.

Dari atas sebuah pohon, Momiji dan Ion memperhatikannya. Merasa orang di sebelahnya begitu senyap, Ion menoleh. Dan takjub. Pertama kalinya wajah tanpa ekspresi itu begitu ekspresif. Penuh kebahagiaan. Seakan- akan ia terbawa utuh hanya dengan melihat adiknya yang pulih.

Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, bibirnya sudah tergerak dan berucap: “Selamat ya,” pada Momiji.

“Iya,” jawabnya singkat. Matanya tak beralih dari adiknya yang berjingkrak- jingkrak di bawah buaian mentari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar