Minggu, 13 Desember 2009

TWINS

Dari dulu kami selalu mengalami hal yang sama. Bila sesuatu terjadi pada salah satu dari kami, tak lama hal yang sama pasti akan menimpa yang lainnya. Benar, suatu keunikan (kalau tak mau disebut keanehan) yang terjadi pada anak kembar.


Aku dan kakaku adalah saudara kembar. Namaku Ogawara Saiyuki, dan kakakku Ogawara Masayuki. Bahkan dari kecil pun kami memiliki panggilan yang sama: ‘Yuki-chan’. Kakakku yang laki- laki juga mendapat embel- embel –chan di belakang namanya, padahal anak laki- laki biasanya dipanggil dengan akhiran –kun.


Suatu hari ada kejadian gila: kakakku pulang berlumuran darah. Ia terserempet motor sepulang sekolah. Pikiran pertama yang hinggap di kepalaku adalah kekhawatiran akan kondisi kakakku. Yang kedua, beberapa detik setelahnya, tentang diriku sendiri. Ingat? Kami selalu mengalami hal yang sama. Walau dalam versi yang berbeda. Misalnya: sepulang sekolah, kakakku terjatuh dari kereta api waktu turun. Tak lama setelahnya, aku jatuh tersandung tangga. Lalu, misalnya kakakku tangannya lebam karena menonjok tembok. Walau memakan waktu sampai beberapa hari, aku pun kemudian lebam di tempat yang sama karena temanku yang tidak sengaja menjatuhkan kamus di atas tanganku. Sakiiiit.. padahal menonjok tembok ‘kan keinginannya sendiri, terus kenapa aku juga harus kena??


Nah, itulah masalahnya. Kini aku hanya bisa menyiapkan mental dan selalu berhati- hati baik di dalam maupun di luar rumah. Aku juga siap sedia P3K di tasku. Agar bila hal yang telah diramalkan melalui tubuh kakakku itu akhirnya datang, aku sudah siap.


Empat tahun berlalu, aku bahkan sudah melupakan peristiwa itu, tapi ‘sang kembaran’ tak kunjung datang padaku. Kenapa? Saat tiba- tiba ingatan tentang ini merasukiku, aku bertanya- tanya kenapa kembaran dari musibah yang menimpa kakakku tak jua mengunjungiku.


Karena peristiwa itu sudah cukup (bahkan sangat) lama berlalu, kuberanikan diri untuk menanyakan kejadian lengkapnya pada kakakku. Tanpa memandangku ia menjawab, “Anak kembar memang semestinya mengalami hal yang sama. Tapi gimana kalo sampe yang satu ga mengalami yang dialami yang lainnya?”


“Hah? Maksud kakak apa sih?”


“Selama ini kamu selalu bawa P3K ‘kan? Tenang aja, mau ditunggu sampe kapan pun, hal yang menimpaku ga akan menimpamu.”


“Kenapa?” tanyaku mulai was- was dengan sikap kakak yang aneh.


“Karena kakakmu itu ga keserempet motor. Dia dibunuh.”


“Kakak!” bentakku mulai tak tahan. Aku merinding. “Ga pa- pa kalo ga mau cerita. Aku ga akan tanya lagi.”


“Aku serius. Hal yang menimpaku ga akan menimpamu. Karena aku bukan kembaran kamu. Aku yang membunuh kakakmu dan mengambil tubuhnya. Nah, tapi apa yang menimpa kakakmu memang akan menimpamu. Kembaranku sudah menunggu empat tahun untuk memiliki tubuh kasar juga: tubuhmu.”


Begitulah hidupku berakhir. Dan kini tubuhku dimiliki oleh kembaran dari sesuatu yang membunuh kakakku. Apa yang menimpa kakakku benar- benar jatuh atasku juga. Yah, minimal aku tahu apa yang sebenarnya menimpa kakakku waktu itu. Merasakan apa yang dirasakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar