Selasa, 14 Desember 2010

Tovarisch

Malam. Hampir selalu malam perjalanan yang kita lakukan. Kenapa? Semuanya selalu kau yang memutuskan. Tanpa pernah memberitahuku alasannya. Tiap aku bertanya, kau hanya menjawabnya dengan sorot mata rapuh bagai kaca retak, memohon untuk dipercaya.

Aku percaya padamu. Tapi kenapa selalu kamu sendirian yang menanggung segalanya? Lalu apa artinya aku bagimu? Sebatas teman seperjalanankah? Oh ya, aku lupa. Kita memang hanya sekedar tak sengaja bertemu di stasiun itu. Tak sengaja kita menuju beberapa lokasi yang sama. Tak sengaja. Semuanya sekedar ketidaksengajaan. Kebetulan. Kamu juga pasti hanya jadi tak sengaja bergantung padaku.

Begitu jugalah pastinya yang terjadi pada diriku. Tak sengaja aku jadi selalu leleh melihat sosokmu. Kamu yang seperti anak- anak. Kamu yang selalu berusaha menjadi tembok bagiku, padahal kamu busa. Kau pelindungku, tapi akulah penopangmu. Aku kagum padamu, tapi kau mati tanpaku. Kita tak terpisahkan.


Maaf, Krael, malam ini adalah perjalanan terakhir kita bersama. Sudah terlalu banyak kukhianati jalanku sendiri, hanya demi bersamamu. Perjalanan bersama ini harusnya sudah berakhir lama sebelum hari ini. Aku jauh dari tujuanku, begitu juga kamu. Kamu tidak beregois diri dengan menyeretku memasuki jalanmu. Kamu juga meninggalkan jalanmu demi aku.

Apa artinya ini semua, Krael? Tak satu pun dari kita yang sampai tujuan. Perjalanan ini pastilah tidak baik. Bagimu. Bagiku. Aku kagum akan sosokmu. Kau gantungkan nyawamu padaku. Kita saling mengikatkan diri. Ikatan itu kita ciptakan sendiri. Malam ini, akan kuputuskan ikatan itu. Kali ini, biar aku yang ambil keputusan. Untuk kebaikanku. Untuk kita.


Seperti biasa Krael dan Rufien memanfaatkan kereta api sebagai kendaraan mereka. Malam itu, dilihatnya wajah Krael begitu berbinar dari biasanya. Krael memandang ke luar jendela. Membiarkan wajahnya diterpa dingin angin malam. Kian hancur hati Rufien, mengetahui ialah yang nantinya akan mengoyak senyum tipis itu.

Kereta yang mereka tumpangi berhenti di sebuah stasiun. Kontan Krael menoleh dan bertanya pada Rufien, ingatkah ia stasiun apa itu. Temannya itu menjawab, “Ini adalah stasiun pertama kali kita ketemu...” “Sekaligus titik perpisahan kita,” lanjutnya dalam hati. Satu keliling penuh kujalani bersamamu. Kini saatnya kita kembali pada jalan masing- masing. Kembali ke titik awal.

Menghendaki bangkitnya seutas nostalgia, Krael membicarakan hal- hal lama dengan Rufien. Yang tak salah lagi, menumbuk hancur hatinya. Ia yang ingin meluruskan tujuan mereka, ia yang ingin mengembalikan semuanya agar menjadi baik, kini malah merasa dirinya adalah pengkhianat terencana.

Tepat saat peluit tanda keberangkatan dibunyikan, Rufien menghitung mundur dirinya sediri untuk memulai rencananya. Meninggalkan Krael. 4... 3... 2... 1... Dengan satu gerakan, direngkuhnya tubuh Krael. Terkejut, mata Krael sempat membelalak.


Dibisikinya telinga sang pujaan, “Krael, aku sayang kamu. Aku selalu sayang kamu. Tapi kamu udah terlalu lama meninggalkan jalan kamu. Kamu berkorban demi aku. Aku ga bisa pisah dari kamu, Krael. Tapi semakin lama kita bersama, kita hanya saling menghancurkan. Aku ga pa- pa. Hancur akibat daya tarikmu. Tapi aku ga rela kamu hancur. Kamu sosok yang aku kagumi, Krael.”

PRIIIIIIIT....!

Beriringan dengan dibunyikannya peluit terakhir, Rufien menjejak bingkai jendela kereta, kemudian melompat keluar. Tak siap dengan semua itu, Krael hanya bisa membelalakkan matanya lebar- lebar tanpa bisa mengejar. Dari pelupuk mereka berdua berderai air mata. Mata Rufien yang mengucapkan selamat tinggal. Dan mata Krael yang keras- keras menjerit, ‘kenapa?’.

Rufien meninggalkan sebagian perlengkapannya dalam tas mereka. Selain agar maksudnya tak terendus sebelum terlaksana, juga agar meringankan langkahnya.

Entah sejak kapan, Krael mulai menyatukan barang bawaan mereka. Membaginya menjadi barang yang berukuran kecil, seperti dompet, dan barang berukuran besar, contohnya baju dan senjata. Rufien membawa tas ukuran sedang yang isinya barang- barang kecil. Sedangkan Krael memanggul sisanya.

Maka sulitlah kini hidupnya setelah terpisah seminggu dari Krael. Tentu, ia kehilangan sebagian perlengkapannya. Mata berkunang- kunang membuatnya gontai. Tanpa sepengetahuannya, dari tadi ia diamati. Jika tak mau disebut diintai. Sesuai harapan sang pengintai, tak lama Rufien mengambil posisi duduk, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.

Ia terbangun karena kebisingan dan udara panas tempat itu, yang mendidihkan bulir peluhnya. Terlihat manusia- manusia serupa dirinya di mana- mana. Mereka semua ada di.. dalam sangkar! Sebuah sangkar raksasa yang berjeruji batang- batang besi karatan. Ia mendapati dirinya di pelelangan manusia.

Sekitar satu jam ia berusaha berteriak, minta dibebaskan. Persis seperti yang lainnya. Dan semuanya berakhir sama: bungkam akibat dahaga. Satu per satu dari yang ada di sana diseret keluar. Menjumpai sang pembeli. Jiwa, raga. Kini bukan milik mereka lagi.

Di saat yang terasa sebagai akhir dari dirinya, ia memutuskan untuk pergi dari sana. Walau tubuhnya tak bisa, tapi hati dan pikirannya bisa. Ia terbang, melayang, kembali pada Krael. Tak ada yang ia sesali. Keputusannya untuk pergi. Pertemuan mereka yang jauh lebih mundur lagi. Tak ada yang salah. Tak ada yang kebetulan. Kebetulan itu tak ada! Yang ada hanyalah maha rencana.

Satu doanya kini dalam hati, “Jika diizinkan, wahai engkau maha rencana, bersediakah kau tuliskan cerita yang menceritakan pertemuanku kembali dengan pujaanku? Namun jika terlalu berat permintaanku, aku selalu puas dengan goresan penamu. Aku terima.” Ucapan terakhirnya itu meluncur diiringi segaris air mata.

“Air matamu begitu indah,” Kata sebuah suara tiba- tiba.

Spontan, Rufien menoleh ke belakang. Krael. Seketika matanya panas. Deraian air mata tak mungkin dibendungnya lagi. Ia mulai menangis sesenggukan.

Kasar, lengannya ditarik. Kembali memisahkannya dari belahan hatinya. Tak rela akan perjumpaan yang kelewat singkat, ia berusaha berontak, namun tenaganya tak sampai. Ia mendengar bentakan, “Kamu sudah dibeli.” Pupuslah semangatnya saat itu juga. Diliriknya Krael. Pemuda itu tak menunjukkan sedikit pun emosi yang berarti. Ia malah.. tersenyum tipis?

Begitu hinakah aku sekarang bagimu, Krael? Inikah balasanmu atas dosaku padamu, Krael? Adakah aku masih berharga bagimu, Krael?

Dengan air muka yang tak berubah, Krael bergerak seirama dengan Rufien dan si penjaga. Menuju ke arah pintu sangkar manusia. Bermodal kunci yang tak kalah angker dari jerujinya, si penjaga membuka sedikit celah untuk melewatkan tubuh lemah itu. Mendorongnya bar- bar. Sama seperti yang ia lakukan pada yang sebelum- sebelumnya. Menghempaskan tubuh Rufien ke pelukan Krael.

Segera digenggamnya erat pergelangan tangan Rufien. Ia berjalan cepat ke suatu arah. Memaksa Rufien tertatih- tatih di belakangnya. Memunggungi makhluk yang paling dirindukannya. Menyembunyikan air matanya. Tangisan rindu. Syukur. Menghasilkan anak- anak sungai yang menyatukan arusnya. Deras, kuat.

Mereka berjalan sampai menemui hutan. Kemudian masuk dan terus masuk hingga terlihat sebuah sungai di sana. Krael menggandeng Rufien memasuki airnya. Ia mengajak Rufien terus ke bagian yang makin dalam. Meski tak tahu apa yang ada dalam pikiran orang di depannya, tanpa bertanya sepatah kata pun, ia mengikuti. Ia yakin Krael tahu persis bahwa ia tak bisa berenang. Beberapa kali Krael menawarkan diri untuk mengajarinya, ia hampir selalu menolak.

Kini air sudah menyentuh dagunya. Rufien semakin berat bernafas akibat tekanan air. Tiba- tiba Krael berhenti. Ia sendiri sudah terendam air sampai pundaknya.

Tanpa menoleh, ia bertanya, “Kalo sekarang aku berenang ke pinggir, gimana?”

“Boleh.” Jawab Rufien gemetar kedinginan.

“Kalo aku ajak kamu makin jauh?”

“Boleh.”

Sepertinya Krael masih mau bicara, namun suaranya yang selanjutnya tak pernah sampai ke telinga Rufien. Ia hanya merasakan cengkeraman Krael di pergelangannya menguat. Arus air membuatnya tak bisa mendeteksi getaran tubuh Krael. Tapi ia melihat punggung pemuda itu. Punggung yang menangis.

“Maaf,” kata Rufien memecah keheningan.

Seperti es tipis yang disentuh, tangis Krael benar- benar pecah. Seperti jika kita menangis, tenggorokan menjadi sakit, dan tiap tarikan napas menjadi berat. Emosi yang menggelegak memenuhi rongga dadanya, membunyikan tiap tarikan napas Krael.

Remuk. Hancur. Namun ia tak berani menyentuh dia yang sedang marah. Dia yang sedang menangis. Dia yang tersakiti. Disakitinya. Ia hanya ikut menangis di belakangnya. Di belakang punggung sang sosok.

Ia berkata dalam hati, “Mungkin selamanya akan tetap begini. Aku hanya akan selalu melihat punggungnya. Tanpa tahu wajahnya. Apa yang dirasakannya. Dipikirkannya. Direncanakannya.”

Tiba- tiba ia yang sedang menangis tertunduk merasa diperhatikan. Maka diangkatnyalah kepalanya dan ditemuinya mata Krael tepat memandangnya. Krael tetap menggenggam pergelangan tangan Rufien di tengah arus sungai. Tahu jelas kesayangannya itu tak kuasa melawan air. Krael memandangnya dengan sorot mata penuh kepedihan. Luka.

Tak tahu harus berbuat apa, ia kembali menunduk. Menangis. Bukan karena kondisinya. Tapi menangis melihat betapa hancurnya sosok pujaannya akibat perbuatannya sendiri.

Melihat kesayangannya begitu lemah, kecil, sakit. Ia memutuskan untuk menghentikan amarahnya. Amarah yang menjadi sedemikian dahsyat karena bercampur luka rindu. Direngkuhnya pemuda itu ke dalam kehangatan ikatan mereka. Mereka berdua menangis. Meneriakkan perasaan masing- masing sederas arus sungai tempat mereka berusaha berpijak.

“Maaf,” kata Krael. Meledakkan tangisan Rufien di pelukannya. “Kalo kamu emang niat pisah sama aku, pisahkan duniaku dan duniamu. Biar kita beda dunia sekalian. Karena kalo masih sedunia, pasti aku kejar. Aku ga bisa kalo ga ada kamu, Rufien.”

Enggan menjawab, Rufien hanya mengeratkan pelukannya di pinggang Krael. Menikmati kebersamaan mereka setelah hilang beberapa saat. Mungkin sesuatu memang perlu hilang dulu supaya sang empunya sadar betul seberapa mahal nilainya.

Demikianlah nama mereka diabadikan. Terus ada dan bersama. Saling menyokong dengan merasakan yang berlainan. Rufini dan Krause.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar